Jumlah Penumpang LRT Diprediksi Terus Meningkat, Subsidi akan Berkurang

Annisa ayu artanti 31 Juli 2017 13:46 WIB
lrtproyek lrt
Jumlah Penumpang LRT Diprediksi Terus Meningkat, Subsidi akan Berkurang
Pekerja mengerjakan pembangunan stasiun Light Rail Transit (LRT) (ANTARA FOTO/Feny selly)
medcom.id, Jakarta: Pemerintah memperkirakan subsidi yang akan dikucurkan untuk proyek kereta Light Rail Transit (LRT) Jabodebek bisa mengalami penurunan sejalan dengan pertumbuhan jumlah penumpang. Meski demikian, pemerintah meyakini pembangunan ini akan tetap terealisasi sesuai dengan rencana.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, subsidi pada proyek ini adalah istilah untuk pembayaran pinjaman bank oleh pemerintah dalam menyelesaikan proyek. Jadi, dari semula subsidi yang dialokasikan sekitar Rp15 triliun selama 12 tahun maka dengan adanya pertumbuhan jumlah penumpang dan pemanfaatan Transit Oriented Development (TOD) diperkirakan subsidi akan mengalami penurunan.

Hal senada juga disampaikan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dalam rapat kordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan hari ini. Menurutnya, penurunan subsidi ini tidak mengubah realisasi pembangunan tersebut.


"Subsidinya kira-kira Rp16 triliun dalam 12 tahun. Tapi kelihatannya itu akan turun, karena pertumbuhan penumpang cuma lima persen. Saya sudah sampaikan, pertumbuhan itu bisa digoyang menjadi 6-7 persen. Begitu pertumbuhan tujuh persen maka subsidi akan turun," kata Budi, di Kantor Kemenko Maritim, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin 31 Juli 2017.



Budi menjelaskan, pemerintah tetap optimis proyek LRT akan selesai di 2019. Saat proyek LRT selesai maka LRT akan dapat mengangkut penumpang 116 ribu per hari. Kemudian, dengan pertumbuhan penumpang lima persen per tahun dan tarif yang dikenakan pada penumpang Rp12.000 per tiket, sedikit demi sedikit sudah ada keuntungan.

Tentu kondisi itu dengan prediksi dalam 10 tahun yang akan datang jumlah penumpang yang naik LRT Jabodebek mencapai 420 ribu penumpang per hari. "Dengan asumsi mulai dari penumpang 116 ribu, dengan pertumbuhan lima persen dan tarif Rp12.000. Jadi kalau seumpama pertumbuhan tidak lima persen, ya subsidinya turun," ucap Budi.

Ditemui ditempat yang sama, Kepala Divisi LRT Najib Tawangalun menambahkan, subsidi pada LRT ini berbeda dengan subsidi yang diberikan pada commuter line (KRL). Kalau KRL yang disubsidi adalah penumpang sedangkan LRT adalah proyeknya.

"Ini skemanya tidak seperti KRL. Bukan subsidi tiket, bukan potongan tiket. Semakin banyak penumpang, semakin turun subsidinya. Ini akan ada masanya. Pemerintah akan kasih bantuan. Kalau KRL kan tidak terbatas," jelas Najib.

 



(ABD)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360