Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (MI/SUSANTO)
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (MI/SUSANTO)

Mendag: Defisit Kuartal Pertama Perlihatkan Geliat Industri

Ekonomi pertumbuhan ekonomi perdagangan bebas perdagangan kementerian perdagangan ekonomi indonesia
17 April 2019 13:29
Tangerang: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan defisit neraca perdagangan pada kuartal I-2019 sebesar USD193,4 juta. Pasalnya, impor didominasi oleh bahan baku industri, yang artinya industri dalam negeri tengah menggeliat.
 
"Defisit yang pada kuartal pertama ini, yang sekali lagi kami tidak terlalu khawatir karena impornya lebih banyak bahan baku, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan industri ini meningkat," kata Enggartiasto, seperti dikutip dari Antara, di Tangerang, Rabu, 17 April 2019.
 
Dengan situasi tersebut, lanjut Mendag, pertumbuhan industri meningkat baik dari sisi volume, kapasitas, maupun investasi baru, terutama industri yang ada di Kawasan Ekonomi Khusus. Dengan demikian, menurut Enggartiasto, defisit neraca perdagangan akan terjadi sesaat namun bisa meningkatkan ekspor di kemudian hari.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena yang didorong, selain infrastruktur juga banyak industri yang berorientasi ekspor," ungkap Mendag.
 
Karena itu, industri akan menghasilkan barang yang mampu mensubtitusi barang impor, sekaligus berorientasi ekspor yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap penurunan defisit neraca perdagangan.
 
Di sisi lain, Enggartiasto tidak setuju apabila Indonesia disebut masuk middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. Dia bilang ada beberapa alasan Indonesia tergolong negara berkembang yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
 
"Saya tidak melihat bahwa kita masuk ke middle income trap. Kita lihat parameter yang ada, bagaimana pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya," ujarnya.
 
Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi di kisaran lima persen sudah baik dibandingkan dengan negara maju di dunia yang justru berada di angka empat persen. "Malahan sekarang diturunkan lagi oleh IMF Dan World Bank. Kita justru (dengan pertumbuhan ekonomi) segini dapat apresiasi," imbuh dia.
 
Enggar menjelaskan melihat pertumbuhan ekonomi pun harus secara luas mengikuti komponen-komponen pendukungnya seperti tingkat inflasi dan kestabilan nilai tukar rupiah.
 
"Ada negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi inflasinya juga tinggi. Jadi kita stabil sudah bagus," tuturnya sembari optimistis ke depan pertumbuhan ekonomi bakal naik seiring program kerja yang tepat pada revolusi industri 4.0.
 

(ABD)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif