Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto:MetroTV)
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto:MetroTV)

Menkeu Ungkap Dampak Pidato Game of Thrones Jokowi

Ekonomi Berita Kominfo
Rosa Anggreati • 18 Oktober 2018 18:14
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018 dengan menghubungkan antara kondisi global terkini dengan serial televisi Game of Thrones. Pidato tersebut menuai apresiasi seluruh peserta.
 
Di mata Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, pidato Jokowi sangat mengesankan. Meski disampaikan dengan bahasa yang sederhana, kekuatan pesannya luar biasa.
 
"Yang disampaikan Presiden itu luar biasa powerful dari sisi message. Dengan pidato Presiden diharapkan akan memberikan pengaruh saat para pengambil keputusan menciptakan kebijakan," kata Menkeu yang akrab disapa Ani, pada program Prime Talk Metro TV.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ani mencontohkan, Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sampai tahun depan dan terjadi pengetatan kebijakan keuangan. Keduanya berdampak terhadap perekonomian banyak negara sehingga terjadi krisis saat suku bunga meningkat dan dolar menguat.
 
"Dari pidato Presiden, kita berharap para pengambil kebijakan semakin menyadari, terutama Amerika dan Tiongkok, dalam mencari titik temu. Amerika ingin mencari suatu solusi dengan Meksiko, Kanada, Eropa, Korsel, dan Jepang dalam waktu dekat. Diharapkan para pengambil kebijakan akan mencari solusi, perang dagang akan de-eskalasi," ucap Ani.
 
Lebih lanjut Ani mengatakan, IMF-WB 2018 menghadirkan optimisme dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Indonesia berkesempatan mendesain kebijakan moneter menjadi lebih baik dan lebih fleksibel.
 
"Penyesuaian kebijakan perlu kita lakukan. Fleksibilitas adalah kata kunci. Fleksibilitas itu berarti harga bisa bergerak, ekonomi mungkin akan sedikit menurun, impor kita coba atasi, ekspor kita naikkan, investasi dijaga momentumnya. Semuanya itu harus dijaga dengan pilihan-pilihan kebijakan," kata Ani menjelaskan.
 
Termasuk menggunakan seluruh instrumen yang ada. Misalnya, regulasi untuk menjaga sektor keuangan tetap baik. "Kita menggunakan banyak sekali instrumen untuk menjaga ekonomi tetap maju. Selama hubungan antara pemerintah, BI, dan LPS dijaga, perekonomian Indonesia akan baik-baik saja," tuturnya optimistis.
 
Peluang Indonesia di Ekonomi Digital
 
Pada IMF-WB 2018, Indonesa dinilai berhasil memamerkan kekuatan pada sektor ekonomi digital. Dengan penduduk berjumlah 260 juta yang didominasi kaum milenial, penuh keterampilan dan talenta, Indonesia mampu membuktikan diri kuat di sektor ekonomi digital.
 
Pembuktian tersebut tampak pada banyaknya startup yang menjadi 'unicorn' (memiliki valuasi di atas USD1 miliar) di negeri ini. Contoh, Gojek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.
 
"Indonesia tidak hanya menjadi laboratorium, tapi bisa menciptakan ide yang menjadi bisnis. Banyak masyarakat dengan ekonomi digital mampu menjadi pebisnis melalui platform digital. Banyak pemain global melihat potensi Indonesia luar biasa, minat investasi pun sangat nyata," kata Menkeu.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif