Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Penyebab Tiket Penerbangan ke Luar Negeri Bisa Lebih Murah

Ekonomi penerbangan Tarif Tiket Pesawat
Nia Deviyana • 12 Juni 2019 20:11
Jakarta: Masyarakat acap kali menemukan harga tiket pesawat ke luar negeri bisa lebih murah dibandingkan tiket pesawat dengan tujuan penerbangan domestik.
 
Sebagai contoh harga tiket pesawat Jakarta-Kuala Lumpur dengan maskapai Garuda Indonesia dibanderol dengan harga Rp1,57 juta, lebih murah dibandingkan penerbangan Jakarta-Medan dengan maskapai yang sama, dibanderol dengan harga Rp2,1 juta.
 
Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mantan KSAU dan Pengamat Penerbangan Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim menjelaskan, pesawat tujuan Kuala Lumpur kebanyakan adalah pesawat-pesawat tujuan London yang transit di negeri Jiran.
 
"Jadi kalau bisa dikasih gratis, ya dia kasih gratis karena pasti lewat situ juga (Kuala Lumpur). Jadi daripada kosong karena biasanya seat-nya tidak penuh, mending dijual dengan harga murah," ujarnya saat mengisi diskusi di Kelompok Kajian Peradaban (KKP) di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Juni 2019.
 
Chappy melanjutkan dalam menilai harga tiket pesawat ke luar negeri tidak bisa dibandingkan dengan pesawat yang hanya punya rue satu arah.
 
"Kalau pesawat yang hanya satu rute enggak mungkin dijual murah karena pasti akan merugi," kata dia.
 
Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Tbk Fikri Ilham Kurniansyah sebelumnya menjelaskan ada perbedaan mekanisme pemasaran pada penjualan tiket domestik dan internasional, yang membuat tiket domestik lebih mahal.
 
"Di internasional kita bisa lebih murah karena menggunakan gimmick sebagai alat marketing, tapi sebenarnya dalam seat terbatas. Karena persaingan di internasional sangat ketat," ujar Fikri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, belum lama ini.
 
Dia mencontohkan harga tiket Jakarta-Kuala Lumpur bahkan bisa hanya Rp700 ribu. "Tapi terbatas hanya beberapa seat. Karena kalau enggak dibatasi hanya dalam satu bulan bisa-bisa angkat topi (bangkrut)," tambah dia.
 
Berbeda dengan penerbangan domestik yang menurut Fikri agak sulit untuk bermain gimmick karena berlaku tarif batas atas dan tarif batas bawah, sehingga dipesan kapan pun harga tiket tak banyak berubah.
 
Belum lagi, komponen pendukung operasional pesawat yang memang mahal, dimana komponen biaya menggunakan kurs dolar Amerika Serikat. Selain itu, biaya kebandarudaraan yamg juga turut menyumbang kenaikan tarif tiket pesawat.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif