Mendag Agus Suparmanto. Foto : MI/Susanto.
Mendag Agus Suparmanto. Foto : MI/Susanto.

Perundingan RCEP Ditargetkan Selesai Tahun Ini

Ekonomi RCEP
Nia Deviyana • 04 November 2019 14:52
Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menargetkan isu perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) menjadi hal penting yang diharapkan selesai secara substansial tahun ini. Hal itu juga yang akan dibahas Agus pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-35 di Bangkok.
 
Agus menjelaskan RCEP merupakan Mega FTAs terbesar yang mencakup sembilan kelompok kerja dan tujuh subkelompok kerja sesuai dengan cakupan perundingan yang disepakati, yaitu perdagangan barang, ketentuan asal barang, prosedur kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, standar dan kesesuaian, SPS, pengamanan perdagangan, jasa, investasi, kekayaan intelektual, niaga elektronik, kerja sama ekonomi dan teknis, pengadaan barang pemerintah, penyelesaian sengketa, finansial, dan telekomunikasi.
 
"Di bawah kepemimpinan Indonesia, perundingan RCEP yang melibatkan 16 negara ini (10 negara ASEAN, Tiongkok, Korea, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan India) dipandang sangat penting dan diharapkan dapat menjadi penyeimbang bagi maraknya langkah proteksionisme yang terus bergulir akhir-akhir ini sehingga harus diselesaikan secara substantif tahun ini agar dapat ditandatangani 2020," ujar Agus melalui keterangan resminya, Senin, 4 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mendampingi mendag, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan dengan jumlah populasi 48 persen dari populasi dunia dan dengan total PDB sebesar 32 persen dari PDB dunia, kawasan RCEP menjadi pasar yang besar, yang mana 29 persen perdagangan dunia berada di kawasan ini. Selain itu, arus investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke kawasan ini mencapai 22 persen dari FDI dunia.
 
"Bagi Indonesia, RCEP menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi akses pasar ekspor produk unggulan dan masuknya arus investasi di sektor industri bernilai tambah tinggi yang memanfaatkan kawasan sebagai tujuan ekspor dan sumber input bagi industri yang sedang tumbuh," ungkap Iman.
 
Menyelesaikan perundingan yang melibatkan 16 negara yang berbeda tingkat pembangunan ekonominya tidaklah mudah, kemajuan perundingannya sangat lambat karena ternyata di antara sesama negara mitra masih ada yang belum memiliki kerja sama FTA.
 
"Memimpin perundingan yang melibatkan 16 negara yang berbeda-beda tingkat pembangunan ekonominya dan juga tingkat sensitivitasnya tidaklah mudah, memerlukan kesabaran, kreativitas, dan kemampuan dalam melahirkan konsep-konsep maupun ide-ide penyelesaian berbagai isu. Selain itu, lerubahan pemerintahan di negara anggota juga turut memengaruhi dan bahkan memperlambat proses perundingan," tambah Iman yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Perundingan RCEP.
 
Tahun ini merupakan tahun ketujuh Iman Pambagyo memimpin perundingan. Hingga saat ini, telah dilakukan 28 putaran perundingan regular dan tujuh pertemuan intersesi di tingkat TNC. Di samping itu, pertemuan regular Menteri RCEP juga telah berlangsung tujuh kali dan sembilan kali pertemuan intersesi Menteri RCEP. Sementara pertemuan KTT baru berlangsung dua kali, dan pada 4 November merupakan KTT RCEP yang ketiga.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif