"Saya kira, Presiden tersandera karena ternyata semangat the right man on the right place tidak terwujud dalam Kabinet Indonesia Maju," ujar Enny Sri Hartati, dalam Diskusi Media, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.
Penempatan anggota kabinet baru, tambahnya, tidak seluruhnya mencerminkan upaya Presiden memberikan ruang yang tepat dan proporsional bagi para pembantunya guna bekerja sesuai kapasitas masing-masing.
"Bahkan penempatan seorang menteri lebih menguat pada nuansa politis," kata Enny.
Menurut Enny terdapat beberapa anggota kabinet yang perlu dievaluasi kapasitasnya, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati yang sebelumnya tidak pernah terdengar dan terbaca rekam jejaknya dalam upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Kemudian penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kurang tepat sebab sektor pendidikan merupakan roh dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Penunjukan Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga dinilai kurang memaksimalkan potensi dan kapasitasnya.
Menurut dia, sangat tepat jika Nadiem Makarim sebagai Menteri UKM sebab akan mendorong percepatan pertumbuhan start up di Indonesia dengan pendekatan teknologi. Sedangkan Wishnutama sangat efektif dan optimal berkarya jika ditunjuk menjadi Menkominfo.
Selain itu publik sebelumnya tidak pernah mendengar nama Agus Suparmanto dalam sektor perdagangan, namun kini nama itu tiba-tiba muncul. Penunjukan Terawan sebagai Menteri Kesehatan juga masih menyisakan polemik dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
"Jadi itu yang kami sebut, the right man on the right place," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News