"Memang perbankan dilakukan kajian publik perlu meningkatkan efisiensinya sehingga biaya over head atau NIM-nya bisa dikecilkan," kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Kompleks BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat 1 September 2017.
Dirinya menambahkan, penurunan suku bunga kredit maupun suku bunga deposito diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit. Dengan begitu, maka perbankan bisa memiliki peran yang lebih baik terhadap perekonomian.
Selain itu, bank sentral juga mendorong perbankan untuk berperan untuk mendukung pembiayaan kepada korporasi di berbagai sektor. Di antaranya adalah komoditas serta pendukungnya yang masih terbatas mendapat pembiayaan karena harga komoditas yang masih naik-turun.
"Indonesia kan banyak ekspor komoditas, mulai dari kelapa sawit, batubara, sampai tembaga, timah dan lain-lain. Dan perbankan masih memberikan perhatian kepada industri konstruksi dan juga industri perdagangan, jadi hal ini yang kita lihat ke depan," jelas dia.
Lebih lanjut, BI mengaku optimistis jika pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester dua akan lebih baik dibandingkan dengan semester satu. Dengan begitu konsolidasi perbankan serta korporasi dapat berlanjut hingga mendorong pertumbuhan kredit.
"Kalau di dalam negeri kita ingin meyakini konsolidasi yang dilakukan di korporasi dan perbankan maupun di rumah tangga itu harus bisa cepat selesai sehingga mereka bisa mengambil kesempatan untuk berpartisipasi mengontribusikan ekonomi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News