Sekretaris Jenderal Kemenperin Syarif Hidayat mengatakan, prioritas pengembangan industri berbasis mineral logam karena dapat mendukung kebutuhan sektor seperti transportasi, konstruksi bangunan, permesinan, infrastruktur, energi, listrik, telekomunikasi, kemasan, alat rumah tangga, alat kesehatan, dan elektronik.
Sementara itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengungkapkan, dari perspektif ekonomi, besi baja bahan dasar logam yang memperoleh nilai penjualan global sebesar USD225 miliar per tahun.
"Pada 2015, produksi besi baja dunia mencapai tiga miliar ton. Produsen utama besi baja adalah Tiongkok yang memberikan kontribusi sebanyak 50 persen produksi dunia, yang diikuti Jepang, Amerika Serikat dan India," kata Putu, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (19/2/2016).
Selanjutnya, industri logam tembaga (copper) berada di peringkat dua sebagai logam dasar utama dengan nilai penjualan global sebesar USD130 miliar per tahun. Pada 2015, produksi tembaga dunia mencapai 18,7 juta ton dengan produsen terbesar Chili, Tiongkok, dan Peru.
"Untuk alumunium memiliki nilai penjualan global sebesar USD90 miliar per tahun dengan nilai produksi mencapai 49,3 juta ton, di mana produsen utamanya berasal dari Tiongkok, kemudian Rusia, Kanada, dan Uni Emirat Arab," ungkap Putu.
Sedangkan nilai penjualan nikel secara global sebesar USD40 miliar per tahun yang kebutuhan utamanya digunakan sebagai paduan untuk membuat stainless steel. Pada 2015, produksi nikel mencapai 2,4 juta ton dengan produsen utama berasal dari Brazil dan Rusia.
Indonesia, papar Putu, memiliki potensi besar dalam mineral logal. Ini karena potensi pasir besi sebesar dua miliar ton, bijih besi 935 juta ton, bijih bauksit 918 juta ton, bijih nikel 1,5 miliar ton, dan bijih tembaga 23,8 miliar ton.
Mengenai kinerja industri logam, kata Putu, pertumbuhannya cukup signifikan mencapai 6,53 persen pada 2015 atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri non migas sebesar 5,25 persen dan ekonomi nasional sebesar 4,86 persen pada periode yang sama.
Kemudian dari sisi jumlah perusahaan juga menunjukkan peningkatan, pada 2010 sebanyak 988 unit menjadi 1.369 unit pada 2014. Diikuti pula peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja yang pada 2015 mencapai 430 ribu orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 342 ribu orang.
"Dari hasil kinerja tersebut, membuktikan industri logam dalam negeri menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi dan penguatan struktur industri nasional," tutup Putu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News