Ilustrasi pelaku usaha tempe. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi pelaku usaha tempe. (FOTO: dok MI)

Pengusaha Optimistis Pasar Ekspor Tempe Meningkat

Ekonomi ekspor Tempe
Ilham wibowo • 11 April 2019 15:02
Jakarta: Pengusaha tempe meyakini pasar ekspor bakal terbuka dengan hadirnya dorongan kuat dari pemerintah. Makanan dari olahan kacang kedelai ini sudah siap untuk dibawa ke mancanegara.
 
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan para pelaku usaha tempe sudah mendapat pembinaan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar produk olahannya memiliki standar mutu terbaik. Perangkat teknologi pengawetan juga telah dimanfaatkan agar tempe bisa bertahan lama saat di pengiriman.
 
"Beberapa kali sudah pernah dikirim ekspor semuanya menggunakan kontainer cold storage yang dingin. Sehingga tempe yang sudah didinginkan di sini bisa tahan tiga bulan atau beberapa bulan," kata Aip kepada Medcom.id, Kamis, 11 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski masih dalam jumlah kecil, ekspor tempe sudah dilakukan ke sejumlah negara seperti Hong Kong dan Korea Selatan. Harga yang berlaku di negara tersebut dipatok dua kali lipat lebih tinggi dengan harga jual di Indonesia.
 
"Harga tempe di Korea minimal Rp40 ribu per kg, sementara harga di sini rata-rata Rp15 ribu. Tempe ekspor itu bisa dua kali lipat harganya," tuturnya.
 
Aip sendiri mengaku telah bertemu langsung dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam meningkatkan potensi ekspor tempe ini. Rencananya, tim pemasaran Kemendag atau Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 50 negara bakal ikut dilibatkan dalam berbagai misi dagang.
 
"Kemendag punya ITPC yang ada di 50 negara dan dia yang akan bantu memasarkan dengan pengusaha di negara setempat bisa kontrak jangka panjang dalam satu tahun atau kita kirim rutin, ini yang sedang diproses," ungkapnya.
 
Tempe Indonesia diyakini akan dengan mudah diterima lantaran rasanya yang cenderung mudah diterima lidah masyarakat di negara setempat. Aip berharap keterlibatan pemerintah bisa ikut mendorong pemasaran tempe racikan Gakoptindo yang ditargetkan mencapai 50 kontainer atau 2.000 ton per bulan.
 
Adapun kawasan Timur Tengah manjadi target utama ekspor tempe ini lantaran potensi permintaan yang tinggi. Kehadiran orang Indonesia sebagai tenaga kerja maupun ibadah umrah dan haji menjadi alasan lain Aip menaruh harapan besar dalam pengembangan produk tempe.
 
Produksi tahu dan tempe Gakoptindo pada 2018 tercatat hanya bertambah sekitar tiga persen dibandingkan hasil produksi 2017 yang mencapai 2,5 juta ton. Kehadiran ekspor diharapakan bisa menambah angka produksi dan laba.
 
"Usaha ekspor tempe ini di samping meningkatkan program pemerintah juga meningkatkan pendapatan pengusaha tempe, peranan Gakoptindo menjembatani ini," ujarnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif