Ekonom Senior Mari Elka Pangestu. Foto : Medcom/Suci.
Ekonom Senior Mari Elka Pangestu. Foto : Medcom/Suci.

Mari Pangestu: Indonesia Perlu Perkuat Integrasi Perdagangan Regional

Ekonomi ekonomi indonesia
Antara • 04 Februari 2020 20:19
Jakarta: Ekonom Senior Mari Elka Pangestu mengatakan Indonesia perlu memperkuat integrasi perdagangan regional untuk mengantisipasi dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
 
Mari menuturkan Indonesia memiliki kesempatan yang luas untuk menghilangkan hambatan arus perdagangan antarnegara karena merupakan anggota dari Association of Southeast Asia Nations atau ASEAN.
 
“Sebagai anggota ASEAN kita punya peran antara kita dengan ASEAN dan ASEAN dengan enam negara yang menjadi mitra dagang kita,” katanya saat berkunjung ke Kantor Berita Antara, dikutip dari Antara, Rabu, 4 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak hanya itu, Mari juga menyebutkan integrasi akan semakin kuat melalui perjanjian perdagangan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) antara ASEAN dengan enam mitra dagangnya yakni Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.
 
“Jadi antara kita harus terus melakukan pembukaan integrasi antara Indonesia di ASEAN,” ujarnya.
 
Mari yang pernah menjadi anggota dewan pembina Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menjelaskan jika penguatan integrasi itu tercapai maka Indonesia dapat memiliki akses terhadap 40 persen dari perdagangan dan investasi global.
 
“Kalau kita bisa melakukan itu maka setengah dari dunia dari segi penduduk, 40 persen dari perdagangan dan investasi, maupun PDB dunia. Jadi itu sangat berarti,” tegasnya.
 
Mari yang resmi menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia menyatakan melalui integrasi perdagangan regional itu Indonesia juga akan mampu meningkatkan investasi dan ekspor manufaktur.
 
“Kita harus bisa meningkatkan ekspor di manufaktur dan harus bisa menjaga iklim perdagangan dunia,” ujarnya.
 
Ia melanjutkan Indonesia juga harus meningkatkan perannya dalam organisasi dan forum internasional lain seperti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan G20 terutama untuk mendorong reformasi World Trade Organization (WTO).
 
Hal tersebut berkaitan dengan perang dagang antara AS dan Tiongkok yang diproyeksikan masih akan berlanjut pada tahun ini meskipun telah ada kesepakatan perdagangan fase satu pada akhir Desember 2019 lalu.
 
“Kita harus berperan misal di APEC dan G20 untuk mendorong reformasi WTO yang perlu dilakukan karena menurut AS banyak titik-titik lemahnya,” tegasnya.
 
Mari menegaskan langkah yang seharusnya diambil adalah memperbaiki WTO agar tetap relevan untuk situasi sekarang seperti terkait sengketa maupun berbagai isu baru yang menurut AS belum masuk dalam perjanjian tersebut.
 
“Jadi jangan mematikan WTO. Kita cari langkah-langkah untuk memperbaiki WTO sehingga tetap relevan untuk sekarang seperti terkait subsidi industri, transfer teknologi dan persaingan teknologi,” katanya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif