Menko Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Menko Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Dunia Butuh 310 Juta Ton Minyak Nabati pada 2050

Ekonomi minyak kepala sawit anabatic technologies
Nia Deviyana • 04 Februari 2019 13:26
Jakarta: Riset Satuan Tugas Kelapa Sawit International Union for Conservation of Nature (IUCN) memprediksi kebutuhan minyak nabati dunia mencapai 310 juta ton pada 2050. Pemenuhan kebutuhan tersebut bisa dipasok dari kelapa sawit, kedelai, atau biji bunga matahari.
 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan penggunaan komoditas kelapa sawit lebih hemat secara lahan dibandingkan komoditas lainnya.
 
"Telah disampaikan bahwa untuk memproduksi 1 ton minyak nabati, hanya diperlukan 0,26 hektare lahan kalau pakai kelapa sawit. Kalau dari bunga matahari diperlukan 1,43 hektare, kedelai butuh 2 hektare," ucap Darmin di kantornya, Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Senin 4 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan begitu, diperlukan lahan delapan sampai sembilan kali lipat lebih besar apabila menggunakan komoditas non sawit. "Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit, studi ini menjadi sebuah permulaan yang bagus untuk mengembangkan industri kelapa sawit di Indonesia," kata Darmin.
 
Saat ini minyak kelapa sawit berkontribusi sebesar 35 persen dari total kebutuhan minyak nabati dunia, dengan konsumsi terbesar di India, Tiongkok, dan Indonesia. Adapun proporsi penggunaannya 75 persen untuk industri pangan, 25 persen untuk industri kosmetik, produk pembersih, dan biofuel.
 
Di Indonesia, alokasi pemanfaatan lahan untuk menunjang kehidupan flora dan fauna seluas 66 juta hektare atau 33 persen dari luas daratan. Dari jumlah tersebut, perkebunan kelapa sawit menjadi yang terluas dengan pemanfaatan 14 juta hektare, diikuti persawahan 7,1 hektare, dan selebihnya pemukiman dan fasilitas publik.
 
Lebih lanjut, studi menujukkan bahwa wilayah tropis seperti Afrika dan Amerika Selatan merupakan daerah potensial untuk penyebaran kelapa sawit, yang mana merupakan habitat bagi 54 persen spesies mamalia dan 64 persen spesies burung.
 
Penulis Utama IUCN Erick Mejiard mengatakan jika tanaman kelapa sawit diganti dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, maka bisa berdampak pada ekosistem hutan tropis dan savana di Amerika Selatan.
 
"Jadi kelapa sawit akan tetap dibutuhkan dan kita perlu segera mengambil langkah untuk memastikan produk kelapa sawit berkelanjutan," kata Erick.
 

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif