Ketua PKHT IPB Darda Efendi menjelaskan, pemasukan dari pengembangan riset buah-buahan tropis Indonesia antara lain melon, pepaya California, manggis, pisang dan nanas mencapai Rp243 miliar per bulan.
“Paling tinggi pemasukan dari pepaya,” kata Darda dalam acara workshop penguatan kelembagaan Pusat Unggulan Iptek 2014 yang diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (13/6/2014).
Menurut Darda, keuntungan itu bukan dari hasil bisnis murni. Namun hasil riset yang dikembangkan PKHT berupa bibit yang diujicobakan kepada petani. Dari hasil uji coba riset petani mampu menjual ke pasar dengan nilai keuntungan besar.
Pepaya California yang rasanya manis itu merupakan hasil riset yang dilakukan PKHT. Kini pepaya California jadi salah satu primadona buah lokal Indonesia. “Dari segi pendapatan petani juga cukup bagus. Artinya hasil riset yang kami kembangkan memiliki manfaat bagi masyarakat baik efek ekonomi maupun sosial,” jelas Darda.
Pepaya California lahir karena tuntutan masyarakat menengah ke atas yang menginginkan ukuran papaya lebih kecil, sehingga lebih higenis karena tidak tersentuh banyak tangan. Diakui Darda, pasaran pepaya sebelum lahirnya pepaya kecil adalah pepaya Bangkok, yang ukurannya besar dan berkulit kasar.
Rasa pepaya Bangkok cukup manis sehingga disukai masyarakat. Pepaya Bangkok bukan asli dari Bangkok, Thailand, karena varietas bibitnya dari Cibinong. PKHT IPB telah melakukan riset sejak akhir 1970 an. Saat itu permintaan pasar menginginkan papaya lebih besar, dagingnya agak keras dan tebal pada saat matang secara fisiologis, meskipun kulitnya agak kasar. Varietas tipe ini sudah diujicobakan di Boyolali, Malang, Bogor dan Sukabumi.
“Masyarakat kerap menyebutnya pepaya Bangkok. Kemudian di era sekarang ini, muncul varietas baru pepaya California. Ukuran lebih kecil, daging lebih tipis, kulit buah lebih halus. Rasanya sangat manis," jelas Darda.
Hasil riset yang dikembangkan PKHT ini menjadi model bagi calon-calon Pusat Unggulan Iptek yang saat ini sedang diproses di Kementerian Riset dan Teknologi. Asisten Deputi Kompetensi Kelembagaan Deputi Kelembagaan Iptek Kemenristek, Yohan menjelaskan bahwa saat ini ada lima pusat unggulan iptek yang sudah menghasilkan produk yang langsung dimanfaatkan baik industri maupun masyarakat.
Yaitu Pusat Unggulan Iptek Penyakit Tropis Universitas Airlangga, Pusat Unggulan Iptek Kopi dan Kakao Jember, Jawa Timur, Pusat Unggulan Iptek Kelapa Sawit Medan, Sumatra Utara, Pusat Unggulan Iptek Kajian Hortikultura dan Tropika IPB dan Pusat Unggulaan Iptek Biofarmaka IPB.
“Masih ada 11 calon pusat unggulan iptek yang saat ini masih dalam binaan dan berbentuk konsorsium tersebar di seluruh Indonesia. Untuk menjadi pusat unggulan tidak mudah karena harus memenuhi beberapa syarat,” kata Yohan.
Syarat tersebut antara lain lembaga riset tersebut telah mengeluarkan karya ilmiah sedikitnya lima karya di jurnal internasional dan 20 karya di jurnal nasional yang terakreditasi. Adanya produk yang sudah dipatenkan, komersialisasi paten, dan mendapat kunjungan dari lembaga riset baik nasional maupun internasional. Para peneliti harus bisa menjual hasil risetnya ke industri.
“Memang sangat ketat syaaratnya. Namun dengan cara itu maka hasil-hasil riset bisa langsung dimanfaatkan industri maupun masyarakat,” kata Yohan.
Ia menyebutkan lima pusat unggulan iptek yang ada di Indonesia menghasilkan riset yang telah dipakai industri. “Selain buah-buahan tropis seperti yang dilakukan PKHT, Unair pun telah meluncurkan vaksin dan obat herbal yang sudah diproduksi massal. Yang lainnya juga sudah cukup banyak,” kata Yohan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News