Ilustrasi baja. FOTO ANTARA Joko Sulistyo.
Ilustrasi baja. FOTO ANTARA Joko Sulistyo.

Siap Groundbreaking, KS Tambah Produksi 1,5 Juta Ton Baja Lembaran Panas

Dian Ihsan Siregar • 01 Agustus 2016 19:41
medcom.id, Jakarta: PT Krakatau Steel (KS) tengah bersiap melakukan groundbreaking pembangunan pabrik kedua Hot Strip Mill 2 (HMS#2) di Cilegon, Banten. Rencananya, perusahaan pelat merah tersebut akan melakukan groundbreaking pada 22 Agustus 2016.
 
Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar mengatakan, pembangunan pabrik kedua tersebut menelan biaya investasi sebanyak USD460 juta atau setara Rp6,2 triliun (kurs Rp13.500/USD). Diperkirakan selesai awal 2019, KS akan mampu menambah jumlah produksi baja lembaran panas atau Hot Rolled Coil (HRC) sebanyak 1,5 juta ton per tahun.
 
"(Pabrik) HSM baru nomor dua ini (produksinya) 1,5 juta ton per tahun. Akan dibangun segera dengan kontraktornya dari Jerman, based on international tender yang dilakukan sebelumnya," ujar Sukandar usai menemui Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (1/8/2016).

Pabrik HSM#2, lanjutnya, dibangun di lahan seluas 48 hektare (ha) di kawasan industri milik anak usaha Krakatau Steel, PT Krakatau Industrial Estate Cilegon. Jika pembangunan HSM#2 kelar, maka jumlah produksi lembaran baja panas KS akan mencapai 3,9 juta ton pertahunnya.
 
"(Pabrik) yang lama kan produksi 2,4 juta ton. Nah, kalau ini sudah selesai, maka bisa menambah 1,5 juta ton. Jadi nanti setelah ready di awal 2019, maka produksinya sebanyak 3,9 juta ton setahun. Itu semua untuk kebutuhan dalam negeri," tuturnya.
 
Produksi pabrik HSM#2 akan digunakan oleh salah satu divisi KS yang membuat baja lembaran, yakni Cold Rolling Mill (CRM). Nantinya, CRM akan menggiling dan menjual produk HSM#2 ke publik dalam bentuk baja lembaran panas untuk pipa minyak dan gas, tiang pancang, tangki, konstruksi jembatan, hingga dimanfaatkan sebagai bahan dalam konstruksi box girder jalan tol.
 
Sementara itu, Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengaku bahwa kebutuhan baja dalam negeri masih lebih tinggi dibandingkan produksinya.
 
Langkah KS membangun pabrik HSM#2 merupakan tindakan nyata pemerintah mendorong produksi baja dalam negeri agar mampu mengurangi ketergantungan industri terhadap baja impor. Sebab, saat ini, industri masih kekurangan sekitar 3 juta ton hingga 4 juta ton baja setiap tahunnya.
 
"Demand kita sebanyak 12 juta ton. Sedangkan industri nasional kita baru bisa menyuplai di angka 8 juta ton hingga 9 juta ton. Artinya kan masih ada yang kurang. Kekurangan inilah yang bisa diatasi lewat impor," pungkas Putu.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan