Target yang cukup besar tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan jagung domestik, khususnya untuk industri pakan ternak. Berdasarkan survei pada Juni 2014 hingga Mei 2015, industri pakan ternak di Provinsi Banten, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat membeli jagung impor lebih dari 50 persen dan sisanya jagung lokal.
Sedangkan Industri pakan di Lampung dan Jawa Timur penggunaan bahan baku jagung impor sudah rendah, yaitu di bawah 48 persen. "Yang patut ditiru adalah industri pakan ternak di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan, seluruh bahan bakunya 100% dari jagung lokal," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementan Suwandi, Rabu (13/4/22016).
Menurut Suwandi, industri pakan sebenarnya berminat membeli jagung lokal karena berbagai keunggulan. Namun, mereka menginginkan agar kontinuitas pasokan terjamin dengan dibutuhkan alat pasca panen dan penyimpanan (silo).
Jagung juga perlu dikembangkan di areal luas supaya mudah tersedia. Harga jagung lokal harus lebih kompetitif.
Selain itu, jagung lokal harus memenuhi standar industri, misalnya kadar air sesuai dan lainnya . "Industri pakan juga menginginkan ada perbaikan infrastruktur, pembiayaan petani, dan pola kemitraan dalam memudahkan mereka menyerap jagung petani," jelas Suwandi.
Menyikapi hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaman mengatakan bahwa Kementan sejak 2015 telah melakukan berbagai upaya. Sehingga 2016 ini akan mampu menyediakan pasokan jagung yang dibutuhkan industri pakan sebanyak 750 ribu ton per bulan dan kebutuhan jagung nasional 1,55 juta ton per bulan.
Melalui berbagai terobosan kegiatan, maka produksi 2016 akan mencukupi kebutuhan konsumsi. Bahkan, neraca jagung 2016 diprediksi surplus 1,3 juta ton.
Amran menjelaskan, berbagai upaya yang telah dilakukan yakni, pertama, akselerasi produksi di wilayah potensial untuk substitusi impor jagung bagi pabrik pakan di wilayah Banten, Sumatera Barat, Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.
Kedua, tetap meningkatkan produksi untuk memasok pabrik pakan di Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan yang sudah 100 persen dari jagung lokal. Ketiga, meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, mutu, kontinuitas dengan mekanisasi pertanian dan bantuan benih jagung gratis untuk 1,5 juta hektare.
Keempat, menata sistem distribusi dan logistik dari sentra produksi ke sentra pabrik pakan. Dalam hal ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) berperan membeli jagung langsung di tingkat petani.
“Kelima, mengendalikan impor jagung di 2016, yakni maksimal 1 juta ton dan pelaksanaan impor jagung hanya dilakukan oleh Bulog,” terang Amran.
Amran menegaskan, kebijakan dan kemudahan lainnya adalah pelaku industri pakan ternak diminta bekerja keras memproduksi jagung sendiri dan tidak mengandalkan jagung impor. "Ini mengingat potensi lahan dan sumberdaya sangat luas, sehingga mampu memproduksi jagung sesusai kebutuhan industri pakan," tegas Amran.
Kementan bersama instansi terkait, lanjut Amran, telah menyediakan 500 ribu hektare lahan hutan dan 265 ribu hektare dari Perhutani. Kementan juga memberi berbagai kemudahan bagi industri pakan ternak untuk membangun agribisnis jagung skala luas (corn estate) yang terintegrasi dan bermitra petani.
"Apabila areal tersebut dikembangkan jagung, dapat menghasilkan minimal 3 juta ton jagung per tahun. Lebih dari cukup untuk industri pakan ternak. Ini merupakan solusi permanen dalam rangka pemenuhan kebutuhan pakan ternak," pungkas Amran.
Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi Kementan, panen raya jagung Maret 2016 menghasilkan lebih dari 5,2 juta ton. Sedangkan April ini diperkirakan mencapai 2 juta ton jagung pipilan kering.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News