Nanik Soelistiowati, sang pemilik Pisang Goreng Bu Nanik. Foto : Medcom/Nia D.
Nanik Soelistiowati, sang pemilik Pisang Goreng Bu Nanik. Foto : Medcom/Nia D.

Sempat Diejek Gosong, Pisang Goreng Madu Bu Nanik Kini Laris Manis

Ekonomi umkm
Nia Deviyana • 24 November 2019 13:54
Jakarta: Penyuka gorengan, terutama pisang goreng, pastinya tidak asing lagi dengan nama Pisang Goreng Bu Nanik. Camilan ini pernah populer dan menjadi salah satu yang paling laris di daftar order layanan pesan-antar makanan.
 
Nanik Soelistiowati, sang pemilik, tidak pernah menyangka pisang gorenganya akan menjadi favorit, apalagi menjadi bisnis utama. Nanik bilang usaha utamanya pertama kali sebetulnya adalah katering makanan.
 
"Awalnya melayani katering untuk 2.000-an orang karyawan hotel. Itu mulainya pada 1994. Di situ ada menu utama pendamping, salah satunya buah pisang atau lainnya. Kadang ada pisang yang kurang bagus, kalau dibuang sayang, lalu saya olah jadi pisang goreng untuk dikonsumsi keluarga saja," ujar Nanik saat berbincang dengan media di Cohive 101, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nanik menggoreng pisang dengan adonan tepung dan gula. Sampai akhirnya dia mengganti gula dengan madu karena sang ibu menderita diabetes.
 
Saat masih menjalani bisnis katering, Nanik memutuskan membuat varian pada menu kateringnya. Setiap Jumat, dia memberikan bonus snak seperti lemper atau pisang goreng. Bak petir di siang bolong, pisang madunya malah sempat diprotes pembeli lantaran penampilannya seperti gosong.
 
"Ngapain sih kasih pisang goreng gosong, kata orang-orang saat itu, dikasih tester aja pada nolak. Makanya pisang goreng madu ini saya sebut Si Hitam Manis," tuturnya.
 
Nanik menjelaskan pada orang-orang bahwa pisang gorengnya bukan gosong. Warna hitam merupakan hasil karamelisasi dari madu yang bercampur minyak panas ketika digoreng.
 
"Sampai suatu hari ada karyawan hotel yang mencoba ternyata enak dan pesan. Saya bilang itu enggak buat dijual, tapi dia tetap pengin pesan. Awalnya itu saya enggak patok berapa harganya, tapi akhirnya jadi bertambah pesanan berkat marketing dari mulut ke mulut," kata dia.
 
Berbekal jumlah pesanan yang semakin bertambah, Nanik merasa pisang gorengnya memiliki masa depan yang bagus. Setelah berembuk dengan keluarga, pada 2007 Nanik memutuskan berhenti usaha katering dan fokus menjual pisang goreng.
 
Nanik pun memikirkan trik marketing yang lebih masif lagi selain dari mulut ke mulut. Selain itu, Nanik mencoba menjajakan pisang goreng madu di depan rumahnya.
 
"Ikut bazar, dibantu teman kasih gerobak. Dulu 2007 belum ada ojek online. Saya memang ulet, naik motor sebarin brosur, setiap Jumat ke masjid selipin di wiper mobil di sekitar situ. Minggu, kalau kebaktian paginya ke gereja selipin brosur juga. Dari banyaknya minat orang, saya jadi optimistis akan sukses," urainya.
 
Kini usaha Pisang Goreng Madu Bu Nanik sudah berjalan selama 12 tahun. Nanik turut serta mengajak dua anaknya menjalankan bisnis tersebut.
 
"Mereka saya tanya, kamu mau kerja atau bantu mami usaha. Kalau kerja di perusahaan orang, kamu suksesin usaha orang. Tapi kalau kerja sama ibunya, ya memang cuma jualan pisang, tapi siapa tahu bisa berkembang,” jelas dia.
 
“Dan dua-duanya mau," tambah Nanik.
 
Michelle K Molloy, anak kedua Nanik yang bertindak sebagai COO CV Bu Nanik Group menuturkan, dirinya membantu sang ibu dalam proses marketing.
 
"Selama terjun di bisnis ini yang saya lihat kita harus aware dengan perkembangan zaman. Kita branding, kalau dulu produk enggak dicetak, sekarang dicetak. Kita enggak mau ada customer dapat pisang besar dan yang lain dapat kecil. Jadi semua sama. Packagingnya juga yang menarik, dan sekarang ini untuk menyasar generasi milenial kita ada beberapa varian topping," papar Michelle.
 
Tips Sukses
 
Nanik tidak memungkiri setiap usaha bisa mengalami pasang surut. Namun, dia meyakini dengan semangat pantang menyerah semua bisa diatasi.
 
"Kita jangan pernah lihat ke atas, selalu lihat ke bawah karena ada banyak orang lebih susah dari kita," katanya.
 
Selain itu, Nanik juga memegang prinsip untuk pintar-pintar mengelola modal. Dia termasuk pengusaha yang anti meminjam uang ke bank ketika memulai usaha.
 
"Kita sesuaikan bisnis dengan kemampuan. Saya sendiri sangat takut meminjam uang ke bank, ya kalau untung. Kalau rugi bagaimana? Kalau kuliner, bisa dengan bikin tester lebih dulu, kemudian kalau respons positif, bisa dibuat sesuai pesanan dulu. Untuk modal, bisa minta dibayarkan setengah dulu dari pemesan," saran Nanik.
 
Dalam membeli peralatan produksi pun, kata Nanik, harus membuat skala prioritas. Intinya jangan pernah membeli barang yang tak perlu.
 
"Anak-anak minta ini-itu diganti, pasti saya kontrol. Memang perlu diganti enggak? Saya ulet banget kalau mengelola uang," kata dia.
 
Kini usaha Pisang Goreng Madu Bu Nanik sudah berbuah manis. Jika pada 2007 dia hanya bisa mengolah 25 kilogram pisang raja, kini dia bisa menghabiskan 3-4 ton per hari. Adapun pisang-pisang tersebut dipasok dari empat daerah yakni Lampung, Bandung, Cianjur, dan Bandung.
 
Saat ini, Pisang Goreng Madu Bu Nanik sudah bisa dipesan di fitur pesan antar makanan yang tersedia di ojek online, bahkan melayani pengiriman luar Jakarta yakni di Pulau Jawa dan Bali melalui kerja sama dengan perusahaan logistik same day delivery, Paxel.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif