Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Dok.BI
Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Dok.BI

BI Prediksi Defisit Transaksi Berjalan di Bawah 2% PDB

Ekonomi bank indonesia defisit transaksi berjalan
Eko Nordiansyah • 19 Mei 2020 16:09
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) akan lebih rendah dari perkiraan. Bahkan, defisit transaksi berjalan diprediksi akan berada di bawah dua persen dari produk domestik bruto (PDB).
 
"Bank Indonesia memprakirakan defisit transaksi berjalan 2020 menurun menjadi di bawah dua persen PDB, dari prakiraan sebelumnya 2,5 sampai tiga persen PDB," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam video coference di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2020.
 
Pada kuartal I-2020 defisit transaksi berjalan menurun menjadi di bawah 1,5 persen PDB dari 2,8 persen PDB pada kuartal IV-2019. Kondisi ini dipengaruhi menurunnya impor sejalan melambatnya permintaan domestik, sehingga meminimalkan dampak berkurangnya ekspor akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sementara itu, transaksi modal dan finansial mengalami penurunan signifikan karena besarnya aliran modal keluar akibat kepanikan pasar keuangan global terhadap pandemi covid-19," jelas dia.
 
Dirinya menambahkan, aliran masuk modal asing kembali membaik mulai April 2020 didorong meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta tingginya daya saing aset keuangan domestik dan tetap baiknya prospek perekonomian Indonesia.
 
Investasi portofolio sejak April 2020 hingga 14 Mei 2020 mencatat net inflow USD4,1 miliar, setelah pada kuartal I 2020 mencatat net outflow USD5,7 miliar. Posisi cadangan devisa akhir April 2020 meningkat menjadi USD127,9 miliar, setara pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
 
"Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah," pungkasnya.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif