Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu. Foto; Medcom.id.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu. Foto; Medcom.id.

Surplus Neraca Perdagangan Berdampak Positif bagi Ekonomi di Kuartal II

Eko Nordiansyah • 18 Mei 2022 09:41
Jakarta: Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan surplus neraca perdagangan yang tinggi akan berdampak semakin positif bagi PDB Indonesia di kuartal II-2022. Surplus juga akan menopang stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan risiko global sehingga menjadi bantalan stabilitas ekonomi Indonesia.
 
Surplus neraca perdagangan pada April 2022 tercatat USD7,56 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini melanjutkan tren surplus selama 24 bulan berturut-turut. Bahkan surplus tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah melampaui rekor pada Oktober 2021 sebesar USD5,74 miliar.
 
"Bila dibandingkan dengan 2021, maka arah penguatan pada 2022 diperkirakan jauh lebih baik. Hal ini disebabkan kondisi surplus neraca perdagangan yang lebih besar, serta pandemi yang semakin mengarah ke endemi yang memperkecil hambatan mobilitas," kata dia dalam keterangan resminya, Rabu, 18 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memperkirakan potensi penguatan nilai ekspor masih akan terus tinggi seiring dengan tren positif harga komoditas di pasar global yang diperkirakan masih berlanjut ke depannya. Pada April 2022, ekspor Indonesiatercatat sebesar USD27,32 miliar, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya serta tumbuh sebesar 47,76 persen (yoy).
 
"Hal ini juga terus diimbangi dengan baik oleh pertumbuhan ekspor nonmigas yang konsisten kuat. Ini bukti nyata perbaikan struktur ekonomi yang fundamental. Pemerintah akan terus berupaya agar perbaikan ini berkesinambungan," ujar dia.
 
Febrio menambahkan pemerintah terus memantau potensi dampak ketegangan Rusia-Ukraina salah satunya melalui transmisi volume dan harga komoditas global. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas global membawa dampak positif pada ekspor khususnya terkait komoditas energi, mineral dan logam.
 
"Menguatnya ekspor diharapkan terus menopang surplus neraca perdagangan sehingga terus memberikan dampak positif bagi aktivitas sektor riil. Likuiditas yang meningkat yang diperoleh dari aktivitas ekspor akan berdampak positif bagi aktivitas konsumsi dan investasi domestik, sehingga diharapkan dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi," ungkapnya.
 
Sementara itu, impor Indonesia tercatat tetap kuat meski sedikit melambat dari bulan sebelumnya sebesar USD19,76 miliar, atau tumbuh sebesar 21,97 persen (yoy). Berdasarkan penggunaannya, impor bahan baku/penolong, barang modal, dan barang konsumsi masih bertumbuh positif dan kuat sebesar 25,51 persen (yoy), 15,16 persen (yoy), dan 4,21 persen (yoy).
 
"Peningkatan impor barang konsumsi mengindikasikan pulihnya daya beli masyarakat. Sementara peningkatan pada impor bahan baku dan barang modal mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas industri di dalam negeri salah satunya didorong perbaikan iklim industri domestik. Hal ini juga seiring dengan angka PMI Manufaktur Indonesia yang semakin ekspansif," pungkas dia.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif