Pemerintah Ubah Asumsi Dasar Nilai Tukar jadi Rp15 Ribu/USD di 2019

Husen Miftahudin 15 Oktober 2018 19:53 WIB
rupiahrapbn 2019
Pemerintah Ubah Asumsi Dasar Nilai Tukar jadi Rp15 Ribu/USD di 2019
Menkeu Sri Mulyani. Dok : Medcom/Husen.
Jakarta: Pemerintah lewat Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengusulkan perubahan asumsi dasar ekonomi makro 2019 pada proyeksi nilai tukar menjadi Rp15.000. Dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 sebelumnya, proyeksi nilai tukar diputuskan sebesar Rp14.500.

"Berdasarkan usulan Gubernur Bank Indonesia (BI) mengenai range nilai tukar. Kami mengusulkan angka tengahnya di Rp15.000 untuk nilai tukar di 2019," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 15 Oktober 2018.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengakui bahwa berdasarkan perkembangan terkini, rupiah mengalami tekanan cukup dalam. Nilai tukar rupiah pada saat ini berada di level Rp15.220 per USD.

Adapun penyebab tekanan yang terjadi pada kurs mata uang Garuda di antaranya masih berlanjutnya ketidakpastian global, meski tekanannya mulai berkurang. Perry menjelaskan berkurangnya kondisi ketidakpastian global akibat arah moneter normalisasi di negara maju berlangsung secara gradual.

"Kami melihat kenaikan Fed Fund Rate tahun depan kemungkinan masih akan terjadi 2-3 kali lagi, lebih sedikit dibandingkan tahun ini yang kemungkinan besar akan naik empat kali. Makanya saya sebut bergerak ke arah positif di tahun depan," tuturnya.

Kemudian, lanjut Perry, Eropa kemungkinan akan menormalisasi pengetatan kebijakan moneter pada paruh kedua tahun depan. Hal tersebut membuat Euro bakal mengimbangi kekuatan USD.

"Sehingga dari kondisi di moneter dan keuangan, ketidakpastian masih ada tapi arahnya lebih positif karena tingkat kenaikan suku bunga lebih sedikit. Dan kemungkinan dolar tahun depan diimbangi oleh Eropa," jelas dia.

Selanjutnya, akan terjadi kelanjutan ketegangan antara AS dengan sejumlah negara. Namun berdasarkan informasi yang diterima Perry dalam pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank (IMF-WB) 2018, progres perundingan perdagangan antara AS dan sejumlah negara tersebut mengarah pada hal yang lebih positif ketimbang pada pembahasan awal September 2018.

Selain itu, pidato Presiden Joko Widodo dalam pertemuan tahunan IMF-WB 2018 juga membuka celah melonggarkan ketegangan perdagangan antara AS dengan Tiongkok. Kedua negara tersebut ada keinginan untuk melakukan perundingan dengan pendekatan yang lebih konstruktif, mendorong perdagangan yang lebih terbuka, adil, serta menguntungkan tidak hanya bagi kedua negara, melainkan juga bagi global.

"Berdasarkan itu, maka perkiraan-perkiraan kami yang terkini setelah melihat perkembangan sejak awal September 2018 sampe sekarang. Kami memperkirakan untuk tahun 2019, rata-rata nilai tukar berkisar Rp14.800 sampai dengan Rp15.200," beber Perry.

Berdasarkan putusan Sri Mulyani yang mengambil kurs rupiah pada tahun depan di level Rp15.000, maka usulan Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2019 menjadi:

- Pertumbuhan ekonomi 5,3 persen.
- Inflasi 3,5 persen.
- Tingkat bunga SPN 3 bulan 5,3 persen.
- Nilai tukar Rp15.000 per USD.
- Harga minyak mentah Indonesia USD70 per barel.
- Lifting minyak 775 ribu barel per hari.
- Lifting gas 1,25 juta barel setara minyak per hari.

 



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id