Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)

Industri 4.0 Buka Kesempatan Jutaan Lapangan Pekerjaan

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia Revolusi Industri 4.0
Ilham wibowo • 25 Januari 2019 11:02
Jakarta: Pemerintah telah menjalankan kebijakan strategis di sektor industri guna memperkuat perekonomian nasional. Adapun strategi itu meliputi peningkatan produktivitas dan daya saing, menggenjot nilai ekspor produk manufaktur, dan penguatan atau pendalaman struktur industri.
 
"Langkah yang berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0 tersebut kami yakini akan dapat mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) secara umum, kontribusi manufaktur dan kesempatan kerja," tutur Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, melalui keterangan resminya, Jumat, 25 Januari 2019.
 
Pertumbuhan PDB ditargetkan menyentuh hingga dua persen dengan program ini. Tak hanya itu, lebih dari 10 juta lapangan kerja tambahan pun akan terbuka. Lima sektor kini telah menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0 yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Airlangga optimistis Indonesia masuk sebagai 10 negara yang punya perekonomian terkuat di dunia pada 2030. "Selama 2015-2018 lalu, Indonesia menikmati pertumbuhan pesat di lima sektor manufaktur tersebut. Kami memproyeksi pertumbuhan itu akan berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya," ungkap Airlangga.
 
Sektor industri pengolahan nonmigas periode 2015-2018 tercatat mengalami kinerja positif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,87 persen. Industri juga masih sebagai sektor yang berkontribusi paling besar terhadap PDB nasional, dengan setoran hingga 17,66 persen pada 2018.
 
Pendalaman struktur industri di dalam negeri juga didorong melalui upaya menarik investasi agar semakin meningkat, yang bertujuan untuk mensubstitusi produk impor. Investasi di sektor industri manufaktur pada 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di 2018.
 
Dampak positif investasi adalah terbukanya lapangan pekerjaan yang luas. Hingga saat ini, sektor industri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4 persen dibandingkan dengan di 2015 di angka 15,54 juta orang.
 
Selain itu, industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional hingga 73 persen. Nilai ekspor industri pengolahan nonmigas diproyeksi menembus USD130,74 miliar pada 2018. Capaian ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar USD125,10 miliar.
 
"Kami juga mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk memanfaatkan e-commerce melalui e-Smart IKM. Ini menjadi salah satu program dalam inklusivitas ekonomi digital yang terbukti memberdayakan IKM," ujarnya.
 
Indonesia dinilai berpotensi menumbuhkan ekonomi digital paling tinggi dalam waktu tak lama. Dengan jumlah 260 juta penduduk, Indonesia sudah menguasai populasi terbesar di ASEAN. "Dengan pertumbuhan pasar yang pesat, dan adanya bonus demografi juga menjadikan e-commerce sebagai kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia selanjutnya," pungkas Airlangga.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif