Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menilai, peningkatan surplus lebih banyak didorong oleh penurunan impor yang cukup tajam, bukan karena lonjakan ekspor yang merata.
“Surplus ini lebih mencerminkan koreksi impor, terutama pasca-momentum Ramadan dan Idulfitri, serta indikasi permintaan domestik yang masih lemah,” ujar Novani dalam risetnya.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), impor tercatat turun 8,1 persen, menjadi salah satu level terendah dalam setahun terakhir. Penurunan terjadi di seluruh kategori, terutama pada barang modal yang terkontraksi 15,8 persen dan barang konsumsi yang turun 11,6 persen.
Selain itu, impor emas juga mengalami penurunan signifikan seiring dengan koreksi harga emas global yang mencapai sekitar 15 persen secara bulanan.
Di sisi lain, kinerja ekspor masih ditopang sektor nonmigas, khususnya produk hilirisasi seperti nikel, besi dan baja, bahan kimia, kendaraan, serta minyak sawit. Permintaan dari negara mitra dagang utama seperti China, India, dan kawasan ASEAN tetap menjadi pendorong.
Meski demikian, Novani mengingatkan kekuatan ekspor belum merata. “Ketergantungan pada sejumlah komoditas tertentu membuat struktur ekspor kita masih rentan, apalagi di tengah pelemahan permintaan global,” jelasnya.
Sementara itu, tekanan terhadap neraca perdagangan juga datang dari sektor minyak dan gas. Impor migas meningkat signifikan menjadi sekitar USD3,2 miliar pada Maret, dari USD2,0 miliar pada Februari, sehingga memperlebar defisit migas menjadi USD1,9 miliar.
Tekanan Surplus Perdagangan RI
Dengan harga minyak global yang masih berada di atas USD100 per barel, risiko terhadap neraca perdagangan dinilai cenderung meningkat.Dengan harga minyak global yang tetap tinggi (di atas USD100/bbl), profil risiko untuk neraca perdagangan menjadi asimetris yakni kenaikan harga energi secara langsung memperluas defisit, sementara dampak positif terhadap ekspor tetap terbatas.
Ke depan, surplus neraca perdagangan diperkirakan masih akan berlanjut, namun dengan tren yang menyusut. Dalam jangka pendek, surplus diproyeksikan berada di kisaran USD1,5 miliar hingga USD3,0 miliar.
Pemulihan impor, terutama barang modal dan bahan baku seiring peningkatan aktivitas produksi, serta potensi rebound impor emas, diperkirakan akan menekan surplus.
Dalam skenario yang lebih berat, seperti harga minyak yang tetap tinggi, meningkatnya tensi geopolitik, dan melemahnya harga komoditas, surplus neraca perdagangan bahkan berisiko
turun di bawah USD1 miliar.
“Kalau tekanan dari sisi eksternal dan energi terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan neraca perdagangan kembali tertekan, bahkan berisiko defisit,” pungkas Novani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News