Ilustrasi tenaga kerja. Foto: dok MI.
Ilustrasi tenaga kerja. Foto: dok MI.

Kualitas Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Masih Belum Optimal

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi pengangguran Tenaga Kerja ketenagakerjaan Upah daya beli masyarakat konsumsi rumah tangga Industri pengolahan
M Ilham Ramadhan • 11 Mei 2022 17:49
Jakarta: Pemerintah diminta untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, realisasi kinerja ekonomi pada kuartal I-2022 yang tumbuh 5,01 persen dinilai belum optimal. Sisi ketenagakerjaan menjadi hal yang perlu disoroti oleh pembuat kebijakan.
 
Peneliti Center of Macroeconomics and Finance dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan mengatakan, meski ada penambahan jumlah tenaga kerja sebanyak 4,55 juta orang di Februari 2022, ini tidak sepenuhnya berkualitas lantaran penyerapan didominasi oleh sektor informal.
 
"Memang ada penambahan penyerapan tenaga kerja 4,55 juta pada Februari 2022. Namun kalau diperhatikan penambahan ini ternyata sebenarnya pekerja informal. Jadi tidak ada perubahan signifikan sebetulnya," ujar Abdul Manap dalam diskusi secara daring, Rabu, 11 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada Februari 2022, jumlah pekerja informal tercatat mencapai 81,33 juta orang, atau 59,97 persen dari total tenaga kerja. Angka tersebut naik 3,19 juta orang dari periode yang sama di tahun lalu.
 
Itu berarti, 70,1 persen dari 4,55 juta penambahan penyerapan tenaga kerja di Februari 2022 berada di sektor informal. Lebih rinci, dari total penambahan penyerapan tenaga kerja yang terjadi, 4 juta orang diantaranya merupakan tamatan sekolah dasar (SD).
 
Sedangkan hanya 0,04 juta orang yang memiliki pendidikan diploma I/II/III dan sebanyak 0,12 juta orang berpendidikan sarjana menjadi tenaga kerja di Februari 2022.
 
Abdul menambahkan, pada Februari 2022 pula pengangguran berusia produktif bertambah. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran berusia 15-24 tahun mencapai 17,08 persen dari total angkatan kerja. Sedangkan 4,29 persen pengangguran berusia 25-59 tahun. "Tenaga kerja berpendidikan gagal diserap pasar tenaga kerja," ujarnya.
 
Kualitas pertumbuhan ekonomi yang belum optimal juga tercermin dari rendahnya kenaikan upah buruh di sektor industri pengolahan. Padahal kontribusi dan penyerapan tenaga kerja di sektor ini berperan signifikan pada perekonomian.
 
Secara umum, upah rerata buruh di Februari 2022 adalah Rp2,89 juta per bulan, atau hanya tumbuh 1,05 persen (yoy). Sementara inflasi umum pada periode yang sama telah mencapai 2,06 persen.
 
Adapun pada Februari 2022 upah buruh industri pengolahan turun 1,04 persen (yoy), upah buruh di sektor pertanian naik 0,52 persen (yoy), dan upah buruh di sektor perdagangan naik 0,93 persen.
 
"Rendahnya kenaikan upah buruh pada tiga sektor itu menyebabkan rendahnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sebab sebanyak 44,91 persen tenaga kerja Indonesia bekerja di tiga sektor tersebut," terang Abdul.
 
Dari data BPS, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 4,34 persen (yoy). Pertumbuhan ini dinilai belum pulih seutuhnya lantaran secara historis angkanya mencapai lima persen. Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto mengungkapkan, pemerintah mesti bisa mengendalikan berbagai kenaikan harga komoditas.
 
Pasalnya, kenaikan harga-harga diperkirakan akan menggerus daya beli masyarakat. Bila itu terjadi, maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan kembali melemah.
 
"Jadi secara keseluruhan sebetulnya pertumbuhan konsumsi kita ini belum pulih betul, sehingga kalau ke depan akan ada upaya untuk menaikan sejumlah administered price, ya siap-siap saja daya beli akan rontok lagi pasca-Lebaran," tuturnya.

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif