Korea Pop. Foto ; AFP.
Korea Pop. Foto ; AFP.

Tren Demam Korea Bantu Pemulihan Ekonomi RI, Kok Bisa?

Ekonomi Ekonomi Indonesia artis korea south korea
Eko Nordiansyah • 07 Januari 2021 18:13
Jakarta: Fenomena pesatnya pengaruh demam Korea atau Korean Wave tengah melanda seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Bukan hanya dari segi musik saja melalui K-Pop namun saat ini perkembangan drama Korea juga digandrungi masyarakat.
 
Pengamat Ekonomi dan Dosen Binus University Doddy Ariefianto menilai tren iklan dengan menggunakan artis-artis K-Pop di Indonesia secara tidak langsung mampu mendorong daya beli masyarakat terutama di kalangan anak muda.
 
"Apabila daya beli meningkat diikuti dengan membaiknya penjualan, maka tidak tertutup kemungkinan investasi juga akan masuk," kata Doddy kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 7 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan investasi asing melalui perusahaan-perusahaan dalam negeri juga bisa berdampak positif. Pasalnya, pengetahuan yang dibawa investor asing bisa membuat perusahaan-perusahaan Indonesia berkembang pesat dan berdaya saing global.
 
"Hal ini tentu akan berdampak kepada terciptanya lebih banyak lapangan pekerjaan, meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan terwujudnya pemulihan ekonomi nasional," jelas dia.
 
Sementara itu, ahli di bidang branding Yuswohady mengatakan demam K-Pop di Indonesia sudah terjadi dalam 10 tahun terakhir. Survei menunjukkan saat ini bintang-bintang K-Pop memiliki pasar yang besar dan trafik yang tinggi.
 
Bahkan beberapa brand e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Blibli, hingga Lazada semuanya menggunakan artis Korea sebagai brand ambassador. Selain mampu mendorong penjualan, strategi marketing seperti ini disinyalir bisa memupuk citra baik Indonesia.
 
"Terlihat dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah investor asing gencar menanamkan investasinya di Indonesia, khususnya perusahaan teknologi buatan Indonesia, walau di tengah pandemi," ungkapnya.
 
Misalnya saja Microsoft yang memberikan suntikan dana ke Bukalapak, Google dan Temasek yang berinvestasi ke Tokopedia. Di sisi lain, Traveloka juga menerima dana dari institusi keuangan global sebesar USD250 juta atau setara lebih dari Rp3,5 triliun. 
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif