Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Medcom.id
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Medcom.id

Rasio Utang Indonesia Masih Lebih Baik dari Negara Lain

Antara • 02 Agustus 2022 21:49
Jakarta: Guncangan ekonomi global akibat pandemi covid-19 dan konflik geopolitik Rusia-Ukraina membuat sejumlah negara berada di tepi jurang krisis. Kompleksitas perekonomian dunia turut meningkatkan rasio utang luar negeri sejumlah negara berkembang.
 
"Ketidakpastian ini (dirasakan) mulai dari peningkatan utang di negara berkembang. Akibat pandemi covid-19, lebih dari 30 negara memiliki utang di atas 100 persen (dari PDB)," ungkap Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dilansir Mediaindonesia.com, Selasa, 2 Agustus 2022.
 
Namun, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang cukup kuat. Pasalnya, beberapa indikator eksternal justru menunjukkan tren penguatan. Seperti, neraca perdagangan nasional terus mencatatkan surplus, yakni mendekati USD25 miliar per Juni 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, cadangan devisa Indonesia berada di posisi yang kuat, yakni USD136,4 miliar, atau setara dengan biaya impor selama enam bulan. Kemudian, di tengah peningkatan utang luar negeri sejumlah negara, Indonesia justru mengalami penurunan.
 
Baca juga: Utang Pemerintah Rp6.000 Triliun, Luhut: Yang Penting Bisa Bayar

Dari data Kemenko Perekonomian, posisi rasio utang luar negeri Indonesia hingga Mei 2022 berada di level cukup baik, yakni 32,3 persen terhadap PDB. Posisi tersebut bahkan lebih rendah dari prapandemi covid-19 di 2019, yakni 36,07 persen terhadap PDB. Rasio utang luar negeri naik ketika pandemi merebak pada 2020 ke level 39,31 persen terhadap PDB. Lalu, mengalami penurunan di 2021 ke level 35 persen terhadap PDB.
 
"Rasio utang luar negeri Indonesia menurun. Sampai Mei 2022, rasio utang luar negeri berada di kisaran 32,3 persen terhadap PDB," imbuh Airlangga.
 
Menurutnya, kondisi utang negara berkembang turut diperburuk langkah pengetatan likuiditas bank sentral sejumlah negara maju, utamanya The Fed. Kebijakan menaikkan suku bunga acuan telah berdampak pada peningkatan beban bunga utang. Awalnya, penaikan suku bunga acuan bertujuan menjaga dan mengendalikan tingkat inflasi yang melonjak akibat dampak perang dua negara Eropa Timur. Alih-alih menemukan titik stabilitas, pengetatan moneter yang tergesa-gesa justru menambah keruwetan persoalan ekonomi.
 
"Dengan kenaikan suku bunga Amerika Serikat, potensi mereka (negara berkembang) untuk membayar utang jadi bermasalah. Tentu juga ada akibat covid-19, yang menyebabkan disrupsi rantai pasok global. Dibandingkan berbagai negara, kita di posisi relatif lebih sehat," pungkasnya.
 
(AHL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif