"Karena kalau di Singapura itu waktu bongkar muat satu sampai dua hari, di sini masih tujuh hari. Nah sekarang ini kita turunkan jadi empat hari. Empat hari itu efisiennya. Kalau Singapura kurang dari satu hari, nanti kita turunkan lagi," kata JK di Pelabuhan Peti Kemas Kalibaru, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (1/6/2015).
Keterlambatan bongkar muat ini karena kurangnya fasilitas yang dimiliki Indonesia. Selama ini, kata JK, Singapura selalu menjadi tempat penampungan sementara sehingga waktu sewa kapal sedikit lebih lama. Sewa kapal dibebankan sebagai ongkos.
Oleh karena itu, pengembangan fasilitasi ini akan memperlancar logistik nasional nantinya. JK menyebut, saat ini pembangunan tahap pertama bisa selesai tahun ini.
"Kalau tahap pertama tadi disampaikan tahun ini bisa selesai 800 meter. 800 meter itu bisa lima sampai enam kapal, dikali dua," jelas JK.
JK yakin pembangunan tahap pertama dapat selesai dengan cepat karena pembangunan pelabuhan terbilang sederhana. "Pelataran terminal, tinggal pengaturan manajemen dengan sistemnya saja, kan kontainer semuanya. Jadi mudah sekarang dibandingkan dulu sebenarnya dan lebih cepat," jelas JK.
Pelabuhan ini akan dibangun dengan luas 32 hektare (ha) dan muatan 20 kali lipat dari Pelabuhan Tanjung Priok. Berbeda dengan Tanjung Priok, pelabuhan Kalibaru dibangun di atas permukaan laut. Pelabuhan peti kemas Kalibaru disebut-sebut menjadi pelabuhan terbesar se-Asia Tenggara saat pelabuhan ini selesai nantinya.
Sekadar diketahui, pembangunan tahap pertama pembangunan itu meliputi tiga terminal yang masing-masing bisa menampung peti kemas 4,5 juta TEUs, artinya secara keseluruhan bisa menampung 12,5 juta TEUs.
Sementara itu, tahap kedua terdiri dari pembangunan empat terminal yang masing-masing bisa menampung peti kemas hingga dua juta TEUs, atau total delapan juta TEUs. Total investasi tahap pertama memakan biaya hingga Rp25 triliun dengan luas kawasan sebesar 32 ha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News