"Tentu itu tinggi, tapi tidak tinggi sekali. Periode 2014-2015 lebih tinggi," ujar Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat, 2 Desember 2018.
Menurut Darmin, CAD tidak berdiri sendiri sehingga jangan dilihat dari satu sisi. "Kita melihatnya harus bersama-sama dengan transaksi modal dan keuangan. Sekarang surplusnya transaksi berjalan keuangan sudah cukup besar, memang masih negatif totalnya tapi sudah kecil," papar Darmin.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data neraca perdagangan November 2018 mengalami defisit tertinggi sepanjang tahun ini, yaitu sebesar USD2,05 miliar atau naik 11,68 persen.
Tingginya defisit neraca perdagangan pada November membuat BI meningkatkan proyeksi CAD dari sebelumnya di bawah tiga persen menjadi lebih dari tiga persen di kuartal V-2018. Adapun CAD pada kuartal III-2018 sebesar USD8,8 miliar atau setara dengan 3,37 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyebut tingginya impor menyebabkan defisit transaksi berjalan (CAD) mengalami kenaikan. Pertumbuhan impor juga merupakan dampak dari perekonomian Indonesia yang tetap tumbuh di tengah tekanan global.
"Kan kebutuhan ekonominya ternyata juga sangat meningkat, di satu sisi kita senang bahwa pertumbuhan ekonomi kita tinggi tapi konsekuensinya permintaan barang-barang impor juga meningkat," kata dia, belum lama ini.
Dirinya menambahkan, pemerintah akan terus memperhatikan perkembangan yang ada. Menurutnya dengan aliran modal masuk ke Indonesia yang lebih besar, maka peningkatan CAD yang terjadi sekarang ini bisa diantisipasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News