Ilustrasi. Foto: dok MI/Andri Widiyanto.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Andri Widiyanto.

Kuartal I, Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 4,85%

Ekonomi Inflasi Pertumbuhan Ekonomi investasi neraca perdagangan indonesia komoditas Ekonomi Indonesia daya beli masyarakat Rusia-Ukraina Pemulihan Ekonomi Nasional
Eko Nordiansyah • 06 Mei 2022 13:36
Jakarta: LPEM FEB Universitas Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 ini sekitar 4,85 persen. Pertumbuhan ekonomi di tiga bulan pertama tahun ini diprediksi antara 4,75 persen hingga 4,95 persen dengan proyeksi keseluruhan tahun sebesar lima persen.
 
Terlepas dari disrupsi akibat varian Omicron di awal 2022, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan bahwa kinerja perekonomian di kuartal I-2022 masih menunjukkan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan performa yang baik dari neraca perdagangan.
 
"Pertumbuhan PDB di kuartal I-2022 diestimasi berkisar 4,85 persen. Terlepas dari berbagai tantangan, kami masih berpandangan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2022 akan kembali ke level pra-pandemi di kisaran lima persen," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Memasuki 2022, Indonesia menghadapi berbagai tantangan domestik dan mancanegara. Kombinasi dari tekanan internal dan eksternal telah memicu risiko inflasi di tengah pemulihan ekonomi. Faktor pull dari sisi permintaan telah mendorong naiknya daya beli seiring meningkatnya aktivitas produksi, mobilitas masyarakat, dan pecahnya pent-up demand.
 
"Di sisi lain, faktor push dari peningkatan harga bahan baku menekan daya beli masyarakat. Walaupun belum termaterialisasi di angka inflasi sejauh ini, tekanan inflasi sudah terlihat dari kedua faktor tersebut," ungkapnya.
 
Dari sisi investasi, realisasi investasi tercatat sebesar Rp282,4 triliun selama kuartal I-2022 atau meningkat sebesar 28,5 persen (yoy), mencapai tingkat tertingginya dalam sepuluh tahun belakangan. Penanaman modal asing (PMA) tumbuh 31,8 persen menjadi Rp147,2 triliun, sebagian besar didorong oleh sektor logam dasar, barang hasil logam, dan pengolahan peralatan.
 
"Di sisi lain, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp135,2 triliun atau tumbuh sebesar 25,1 persen yang dikontribusi oleh sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi," ujar dia.
 
Walaupun volume perdagangan global menurun sebagai imbas diterapkannya sanksi oleh negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) akibat perang Rusia-Ukraina, namun lonjakan harga komoditas memberikan dampak positif terhadap neraca dagang Indonesia, yang mencatatkan surplus USD9,33 miliar di kuartal I-2022.
 
"Surplus tersebut lebih tinggi 20 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Surplus ini didorong oleh harga komoditas, terutama batu bara dan CPO. Kombinasi surplus perdagangan dan adanya arus modal masuk mendorong stabilnya nilai tukar rupiah," pungkasnya.

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif