Ilustrasi ketidakpastian ekonomi global - - Foto: Medcom
Ilustrasi ketidakpastian ekonomi global - - Foto: Medcom

Ekonomi Global Masih Diselimuti Ketidakpastian di 2021

Ekonomi perang dunia ii ekonomi global pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 21 November 2020 20:57
Jakarta: Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan pandemi covid-19 telah memberikan tekanan yang luar biasa besar pada perekonomian global, terparah setelah Perang Dunia Kedua.
 
Kebijakan pemerintah di banyak negara yang melakukan pembatasan sosial, termasuk menutup pusat-pusat perbelanjaan dan menghentikan operasional beberapa moda transportasi. Serta sikap masyarakat yang mengurangi kegiatan di luar rumah, mengakibatkan konsumsi masyarakat turun tajam.
 
Berhentinya kegiatan bisnis tidak hanya menurunkan pendapatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Pandemi juga telah mengakibatkan investasi dan kegiatan produksi melambat, baik akibat turunnya permintaan, berkurangnya partisipasi tenaga kerja, dan terganggunyasupply chain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Purchasing Manager Index (PMI) beberapa negara turun tajam selama pemberlakuanlockdownpada semester pertama 2020 meskipun kembali tumbuh pada semester kedua.
 
"Meskipun demikian, proses pemulihan ekonomi global mulai terjadi pada semester kedua setelah tingkat kepercayaan investor meningkat sejalan dengan bergeraknya kembali perekonomian pasca pelonggaran pembatasan sosial. Perdagangan global yang mengalami tekanan pada semester pertama 2020, kembali mengalami rebound pada semester kedua, meskipun belum sekuat sebelum masa pandemi," ungkap CORE Indonesia dalam rilisCORE Economic Outlook 2021dikutip Sabtu, 21 November 2020.
 
Sementara itu, perdagangan barang-barang yang berkaitan dengan penanganan pandemi, seperti produk alat-alat kesehatan dan farmasi dan produk-produk yang mendukung kegiatan bekerja dari rumah, seperti peralatan informasi dan telekomunikasi, justru tumbuh pesat. Perdagangan global yang melambat juga dipengaruhi oleh penurunan harga beberapa harga komoditas.
 
Harga minyak Brent, misalnya, sempat turun di bawah level USD20 per barel, akibatsupplyyang terus meningkat di saat permintaan turun sangat tajam, di samping beberapa faktor lainnya, seperti ketegangan politik di kawasan Timur Tengah dan 'perang minyak' antara negara-negara produsen. Namun, pada kuartal ketiga, perdagangan global pada beberapa produk mulai mengalami rebound. Harga beberapa komoditas mulai merangkaknaik sejalan dengan mulai meningkatnya permintaan global.
 
"Perekonomian global pada 2021 masih akan diselimuti awan ketidakpastian akibat pandemi covid-19 meskipun akan lebih rendah, sejalan dengan penemuan vaksin yang menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menekan perkembangan pandemi tersebut," ucap CORE Indonesia.
 
Hingga saat ini, prospek perkembangan kasus covid-19 menunjukkan pergerakan yang masih sulit untuk ditebak. Negara-negara besar, seperti Spanyol, Inggris, Italia, dan Jerman, yang sebelumnya mampu menekan penyebaran pandemi tersebut, kini harus menghadapi gelombang kedua, dengan jumlah tambahan kasus harian yang jauh lebih besar.
 
Bahkan, Amerika Serikat hingga saat ini menghadapi pertumbuhan kasus harian yang sangat signifikan. Di sisi lain, pemulihan ekonomi Tiongkok, dampakdari keberhasilan negara itu menangani pandemi covid-19, belum sepenuhnya solid, sebab berbagai negara yang menjadi mitra dagang dan investasi negara itu masih berkutat dalam penanggulangan pandemi covid-19.
 
Pada spektrum lainnya, perekonomian global masih menghadapi serangkaian ketidakpastian dari sisi politik ekonomi. Joe Biden, yang menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, berpotensi mengubah pendekatan Amerika Serikat terhadap negara mitra dagang, meskipun perang dagang dengan Tiongkok dan beberapa negara lainnya tidak serta merta mereda dalam waktu cepat.
 
"Di sisi lain, negosiasi Brexit yang belum menemui titik terang, berpeluang menghambat investasi dan arus perdagangan. Hal-hal tersebut membuat prospek pemulihan ekonomi tahun depan belum akan tumbuh secara signifikan," pungkas CORE Indonesia.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif