Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: MI/Erlangga
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: MI/Erlangga

Defisit Anggaran RI Makin Lebar, Negara Lain Lebih Parah

Ekonomi Sri Mulyani defisit anggaran pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 19 Oktober 2020 13:13
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengakui defisit anggaran hingga akhir September 2020 makin melebar menjadi Rp682,1 triliun atau setara setara 4,16 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun angka tersebut dinilai masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain yang mencapai belasan persen.
 
"Kalau melihat (defisit anggaran RI) di Rp682,1 triliun atau 4,16 persen. Tolong diingat, defisit di berbagai negara lain bahkan mencapai di atas belasan persen, bahkan di atas 20 persen," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Oktober secara virtual, Jakarta, Senin, 19 Oktober 2020.
 
Bendahara Negara itu melanjutkan, jika defisit anggaran Indonesia berada di angka 4,16 persen dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 diperkirakan terkontraksi antara minus dua persen sampai minus 0,6 persen, maka Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun target defisit APBN Indonesia hingga akhir tahun ini dipatok sebesar 6,34 persen terhadap PDB. Sementara untuk tahun depan, defisit anggarannya diproyeksikan akan mencapai 5,7 persen dari PDB.
 
Sri Mulyani menjelaskan bahwa melebarnya defisit anggaran merupakan imbas dari meluasnya dampak pandemi covid-19, sehingga memaksa negara-negara di dunia untuk melakukan pelebaran defisit anggaran sebagai langkah countercyclical. Sri Mulyani lantas membandingkan defisit anggaran Indonesia dengan berbagai negara di dunia.
 
"Kalau kita lihat di berbagai negara ini, proyeksi dari defisit di berbagai negara. Untuk Amerika Serikat (AS) yang mengalami defisit 18,7 persen untuk keseluruhan 2020, untuk tahun depan masih mengalami negatif 8,7 persen," paparnya.
 
Jerman dari defisit 8,2 persen di 2020 akan menjadi negatif 3,2 persen untuk tahun depan. Lalu Prancis dari minus 10,8 persen menjadi defisit 6,5 persen, Italia dari negatif 13 persen menjadi defisit 6,2 persen, serta Jepang dari minus 14,2 persen menjadi negatif 6,4 persen.
 
"Bahkan Kanada yang biasanya sangat prudent pun mencapai defisit hampir mendekati 20 persen (tahun ini) dan menjadi 8,7 persen di 2021. Inggris mengalami defisit 16,5 persen (2020) karena harus menahan covid-19 dan menangani Brexit," urai Sri Mulyani.
 
Sementara untuk negara-negara dengan ekonomi yang setara dengan Indonesia seperti Tiongkok, India, Malaysia, Thailand, dan Filipina juga mengalami pelebaran defisit. Tiongkok yang tahun ini target defisitnya 11,9 persen menjadi negatif 11,8 persen di tahun depan.
 
"Tiongkok kalau kita lihat defisitnya tahun ini dan tahun depan itu dipertahankan. Ini supaya terjadi recovery seperti yang terlihat di Tiongkok di kuartal ketiga yang sudah mulai melakukan recover, tapi mereka tidak menurunkan defisitnya sampai tahun depan," papar dia.
 
Sementara India dari defisit 13,1 persen di tahun ini menjadi negatif 10,9 persen di 2021. Sri Mulyani bilang, ruang fiskal India mengalami kendala yang cukup besar sehingga mereka sangat hati-hati dalam melakukan ekspansi fiskalnya.
 
"Karena mereka sudah mengalami defisit yang cukup tinggi, bahkan sebelum adanya covid-19. Kita lihat tahun 2019 India itu defisitnya sudah 8,2 persen, bandingkan dengan kita yang tahun lalu 2,3 persen," ucapnya.
 
Adapun defisit anggaran di Malaysia untuk 2020 ini sebesar 6,5 persen dan 4,7 persen di tahun depan. "Thailand 5,2 persen dengan defisit tahun depan 4,9 persen, Filipina yang tahun ini 8,1 persen tahun depan defisitnya 7,3 persen," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif