Ilustrasi utang pemerintah - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi utang pemerintah - - Foto: MI/ Ramdani

Jangan Khawatir, Utang RI Dikelola dengan Baik

Ekonomi utang luar negeri surat utang Kementerian Keuangan
Eko Nordiansyah • 16 Oktober 2020 14:02
Jakarta: Masyarakat diminta untuk tidak khawatir dengan rilis Bank Dunia yang menyebut utang Indonesia masuk 10 besar dunia. Utang Indonesia pada akhir 2019 disebut mencapai USD402,08 miliar atau sekitar Rp5.940 triliun (kurs Rp14.775).
 
Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin menegaskan utang pemerintah Indonesia dikelola dengan sangat hati-hati dan akuntabel.
 
"Bu Sri Mulyani dikenal prudent dalam menjaga fiskal kita, sehingga resiko yang ada masih manageable dan terjaga," katanya dalam keterangan kepadaMedcom.iddilansir di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan sekalipun utang luar negeri yang dirilis Bank Dunia cukup besar, namun porsi utang pemerintah hanya 29,8 persen saja. Artinya hanya sekitar Rp1.770 triliun saja yang merupakan utang pemerintah, sementara sisanya utang swasta.
 
"Data ini adalah data utang luar negeri (ULN) total, termasuk swasta. Bukan semuanya utang pemerintah Indonesia. ULN pemerintah hanya 29,8 persen saja dari keseluruhan utang Indonesia yang tercantum di dalam International Debt Statistics 2021 yang diterbitkan Bank Dunia," jelas dia.
 
Jika dibandingkan dengan rata-rata utang negara sesama kategori BBB Fitch, sebesar 51,7 persen maka utang pemerintah Indonesia masih relatif kecil. Bahkan dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB), porsi utang Indonesia hanya 35,8 persen per Oktober 2019.
 
Selain dikelola dengan baik dan hati-hati, kebijakan ULN juga tidak dapat dilihat sebagai sebuah kebijakan yang berdiri sendiri. Negara yang sedang membangun memiliki nilai investasi lebih tinggi dari tingkat saving atau 'Saving-Investment Deficit'.
 
"Dalam hal ini perbedaannya ditutup dengan ULN. Sepanjang return terhadap investasi tersebut lebih tinggi dibandingkan biaya bunga, maka sebuah negara akan mampu membayar kembali," ungkapnya.
 
Namun begitu, sustainability ULN perlu dijaga, dan ini bergantung pada kemampuan membayar lagi, potensi penerimaan dalam negeri dan potensi pertumbuhan ekonomi. Selain itu ada pula pertimbangan yang lebih mengarah ke debt management seperti proporsi utang valas dan average time maturity (ATM).
 
Dari keseluruhan jumlah ULN, sebagian besar yaitu 88,4 persen merupakan utang jangka panjang. Masyita menjelaskan, kondisi ini membuat risiko fiskal Indonesia dalam jangka panjang juga masih terjaga karena beberapa alasan.
 
Pertama, porsi utang valas hanya 29 persen per 31 Agustus 2020 atau masih terjaga sehingga risiko nilai tukar lebih bisa dikelola dengan baik (manageable). Kedua, profil jatuh tempo utang kita juga cukup aman dengan ATM 8,6 tahun per Agustus 2020 dari 8,4 tahun dan 8,5 tahun di tahun 2018 dan 2019.
 
"Untuk memitigasi risiko fiskal, terutama pada portofolio utang, kita juga melakukannya strategi aktif meliputibuyback, debt switch,dan konversi pinjaman. Selain itu, secara umum tetap dilakukan manajemen yang baik terhadap waktu jatuh tempo dan pendalaman pasar keuangan," pungkasnya.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif