Presiden Joko Widodo  - - Foto: dok DPR RI
Presiden Joko Widodo - - Foto: dok DPR RI

Pidato Nota Keuangan 2020

Live: Defisit APBN 2020 Lebar Lagi Jadi 6,34% PDB

Ekonomi jokowi Nota Keuangan defisit anggaran Sidang Tahunan MPR RI 2020 Pidato Presiden
Husen Miftahudin • 14 Agustus 2020 16:42
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pemerintah terus melakukan langkah luar biasa untuk menangani wabah pandemi covid-19.
 
Mengacu Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020, pemerintah diberi keleluasaan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dapat diperlebar di atas tiga persen selama tiga tahun.
 
Alhasil, pemerintah akhirnya sepakat mengubah APBN 2020 dengan defisit anggaran sebesar 5,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Akibat pandemi yang kian ganas, pemerintah kemudian meningkatkan lagi defisit anggarannya menjadi 6,34 persen PDB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pelebaran defisit dilakukan mengingat kebutuhan belanja negara untuk penanganan kesehatan dan perekonomian meningkat pada saat pendapatan negara mengalami penurunan," kata Jokowi dalam pidato RUU tentang Tahun Anggaran 2021 beserta Nota Keuangannya di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Agustus 2020.
 
Menurut Jokowi, pandemi covid-19 menjadi bencana kesehatan dan kemanusiaan yang berimbas pada semua lini kehidupan manusia. Berawal dari masalah kesehatan, dampak pandemi covid-19 kini telah meluas ke masalah sosial, ekonomi, bahkan ke sektor keuangan sehingga butuh upaya luar biasa untuk menanganinya.
 
Penanganan pandemi bukan hanya dilakukan oleh Indonesia, tapi juga semua negara di dunia yang terjangkit virus ini. Penanganan luar biasa yang dilakukan oleh banyak negara terutama melalui stimulus fiskal.
 
Jerman misalnya, sudah mengalokasikan stimulus fiskal sebesar 24,8 persen PDB-nya. Namun upaya itu belum mampu menyelamatkan ekonominya yang hanya terkontraksi minus 11,7 persen di kuartal kedua 2020.
 
Begitu pula dengan Amerika Serikat (AS) yang telah mengalokasikan 13,6 persen PDB. Apa daya, pertumbuhan ekonominya juga terkontraksi hingga minus 9,5 persen.
 
"Tiongkok mengalokasikan stimulus 6,2 persen PDB, dan telah kembali tumbuh positif 3,2 persen di kuartal kedua. Namun tumbuh minus 6,8 persen di kuartal sebelumnya," urai Jokowi.
 
Oleh karenanya, sambung Presiden, saat ini pemerintah fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi 2021. Pasalnya, ketidakpastian global maupun domestik masih akan terjadi.
 
"Program pemulihan ekonomi juga akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang. Kebijakan relaksasi defisit melebihi tiga persen dari PDB masih diperlukan, dengan tetap menjaga kehati-hatian, kredibilitas, dan kesinambungan fiskal," pungkas Jokowi.
 
(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif