Ilustrasi ekonomi Indonesia. Foto: MI/Galih Pradipta
Ilustrasi ekonomi Indonesia. Foto: MI/Galih Pradipta

Bayang-Bayang Resesi di Periode Setahun Jokowi Maruf

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Resesi Ancam Indonesia 1 Tahun Pemerintahan Jokowi-Maruf
Eko Nordiansyah • 20 Oktober 2020 14:04
Jakarta: Bayang-bayang resesi menghantui peringatan setahun pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Selasa, 20 Oktober 2020. Pandemi covid-19 menjadi alasan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sejak kuartal II-2020.
 
Pada awal pemerintahan Jokowi-Ma'ruf di kuartal IV-2019, ekonomi masih mencatat pertumbuhan 4,97 persen. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi pada saat itu mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya di posisi 5,02 persen.
 
Pertumbuhan ekonomi semakin melambat ketika memasuki tahun ini. Pandemi covid-19 yang bermula dari Tiongkok menyebar begitu cepat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Aktivitas ekonomi terpaksa berhenti untuk mencegah penyebaran pandemi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional hanya tumbuh sebesar 2,97 persen. Pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini terkontraksi 2,41 persen dari kuartal IV-2020.
 
Pertumbuhan ekonomi kian terpuruk pada kuartal II-2020 yang mencatat minus 5,32 persen akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah di Indonesia. Dibandingkan kuartal sebelumnya, ekonomi terkontraksi mencapai 4,19 persen.
 
Resesi ekonomi diprediksi kian nyata setelah pertumbuhan ekonomi kuartal III diramal akan kembali terkontraksi. Secara teknis, resesi akan terjadi apabila pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut atau lebih mengalami pertumbuhan negatif.
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pertumbuhan ekonomi kuartal III akan terkontraksi antara minus 2,9 persen sampai minus satu persen. Untuk 2020 ini, pertumbuhan ekonomi diprediksi tumbuh negatif antara minus 1,7 sampai minus 0,6 persen.
 
"Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen. Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal IV," kata dia dalam video conference di Jakarta, Selasa, 22 September 2020 lalu.
 
Sementara untuk tahun depan Sri Mulyani masih optimis pertumbuhan ekonomi akan tumbuh lebih baik. Pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan antara 4,5 persen sampai dengan 5,5 persen.
 
"Untuk tahun depan kita tetap menggunakan sesuai yang dibahas di RUU APBN 2021 yaitu antara 4,5 hingga 5,5 persen dengan forecast titiknya di 5,0 persen," pungkasnya.

 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif