"Serapan tenaga kerja, kita punya model baru. Misalnya di industri makanan dan minuman yang menggunakan Industri 4.0 untuk bakunya, misalnya, untuk produksi cokelat, gula, dan biskuit. Sementara pengemasannya dilakukan tenaga manusia," kata Airlangga, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Selasa 2 Mei 2017.
Menurutnya, industri 4.0 juga akan menambah lapangan kerja yang memerlukan keterampilan khusus. Hal tersebut adalah peluang dari penerapan model bisnis disruptive & distributed manufacturing.
"Spesialisasi industri baru sebagai hasil pemekaran dari industri induk akan bermunculan dan membutuhkan tenaga kerja terampil dengan kemampuan lebih spesifik dan tingkat upah yang lebih baik," jelasnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Perindustrian Benny Soetrisno menambahkan, dengan Industri 4.0, tenaga kerja dibidang manufaktur atau produksi memang akan berkurang, namun telah disepakati bahwa manufaktur bukan hanya meliputi proses produksi, tetapi dimulai dari persiapan bahan baku hingga produk tersebut didaur ulang.
"Kalau di manufaktur memang akan mengurangi pekerja manual. Tapi kita kan sudah sepakati bahwa produksi itu tidak hanya manufaktur. Artinya, dari proses material sampai ke akhir. Di tersier ini kan yang paling besar butuh naker," ungkap Benny.
Dengan demikian, Benny menyampaikan, tidak perlu ada kekhawatiran untuk penyerapan tenaga kerja dalam implementasi Industri 4.0. "Tidak, justru menimbulkan peluang entreprenuer baru. Misalnya pelayanan pembayaran, kan baru itu," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News