"Pada tahun 2023 itu kita membutuhkan sekitar Rp600 triliun sampai Rp700 triliun. Tanpa ada kenaikan sumber penerimaan negara khususnya pajak, itu sangat sulit target defisit tersebut dicapai," kata Tauhid dilansir Antara, Rabu, 6 Oktober 2021.
Tauhid menilai pemerintah masih sulit menurunkan defisit APBN ke bawah tiga persen dari PDB karena penerimaan negara belum sepenuhnya pulih. Pasalnya, baru beberapa sektor perekonomian saja yang telah pulih dari dampak covid-19.
Untuk mengembalikan defisit APBN ke bawah tiga persen dari PDB, menurutnya pemerintah harus memulihkan industri manufaktur dan perdagangan yang selama ini menyumbang terhadap penerimaan perpajakan dengan nilai cukup besar.
Di samping itu, konsumsi masyarakat juga mesti diperbaiki agar pemerintah mendapat tambahan penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berbasis pada konsumsi masyarakat.
“Ini yang saya kira punya peluang potensi melebar defisitnya. Kecuali benar-benar bahwa mau tidak mau belanja untuk pemulihan ekonomi akhirnya dikurangi secara drastis,” ucapnya.
Ia mengatakan apabila tambahan penerimaan sekitar Rp600 sampai Rp700 triliun tidak bisa didapatkan, defisit APBN berpotensi lebih lebar dari tiga persen dari PDB pada 2023.
“Apa yang sudah terjadi sekarang terutama di kinerja penerimaan negara maupun perpajakan, kami melihat punya potensi target defisit tersebut bisa melebar di atas tiga persen dari PDB,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News