Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin

BI Yakin Neraca Pembayaran Berbalik Jadi Surplus

Ekonomi bank indonesia neraca pembayaran indonesia
Antara • 25 Oktober 2019 09:12
Jakarta: Bank Indonesia (BI) meyakini neraca pembayaran sepanjang 2019 akan berbalik menjadi surplus dibandingkan dengan kondisi 2018 yang defisit USD7,1 miliar. Kondisi tersebut sejalan dengan membaiknya perekonomian Indonesia terutama masih adanya arus modal yang masuk ke Tanah Air.
 
"Secara keseluruhan kami meyakini Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) akan surplus, sedangkan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) di 2,5-3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 25 Oktober 2019.
 
NPI atau juga parameter ketahanan ekonomi ekternal Indonesia diyakini Perry surplus karena aliran modal asing yang mendukung neraca modal dan finansial. NPI terdiri dari transksi berjalan dan transaksi modal serta finansial. Surplus neraca modal diyakini akan menutupi defisit dari transaksi berjalan sehingga membuat NPI tetap surplus.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


NPI mencerminkan aliran keluar dan masuk valuta asing ke Indonesia. Jika NPI surplus, maka ketahanan ekonomi Indonesia terhadap tekanan ekonomi eksternal akan semakin kuat. Hal sebaliknya terjadi jika NPI defisit. Selama ini yang paling membebani NPI adalah neraca transaksi berjalan yang terdiri dari transaksi barang dan jasa.
 
Adapun neraca transaksi berjalan 2019 diperkirakan BI masih defisit di 2,5 persen hingga tiga persen terhadap PDB pada tahun ini, karena ekspor yang lesu. Untuk kuartal III-2019, bank sentral memproyeksi neraca pembayaran akan membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatatkan defisit mencapai USD2 miliar.
 
Proyeksi tersebut karena surplus transaksi modal dan finansial. Arus masuk investasi portofolio pada triwulan III-2019 tercatat USD4,8 miliar. Faktor pendorong lainnya, kata Perry, defisit transaksi berjalan yang diperkirakan juga akan tetap terkendali. Pasalnya, dipengaruhi oleh impor yang menurun sejalan dengan kebutuhan domestik.
 
Sementara itu, BI mencatat nilai tukar rupiah menguat sejalan neraca pembayaran yang membaik. Pada Oktober 2019, rupiah mencatatkan penguatan 1,18 persen dibandingkan dengan level akhir September 2019. Dengan perkembangan tersebut rupiah sejak awal tahun sampai dengan 23 Oktober 2019 tercatat menguat 2,50 persen (year to date/ytd).
 
"Posisi cadangan devisa Indonesia juga tetap kuat, pada akhir September 2019 tercatat USD124,3 miliar," pungkas dia.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif