"Kita harus mengapresiasi main kopling pemerintah. Kalau diberhentikan total, bisa lebih dalam (pertumbuhan ekonomi)," kata Rizky dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Takut Resesi? Biasa Aja Kali', Minggu, 16 Agustus 2020.
Rizky mencontohkan negara yang menerapkan full lockdown, seperti Singapura. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Singapura minus 42,9 persen.
"Negara yang main kopling tidak jatuh lebih dalam dibandingkan yang naik rem tangan. Gampangnya Singapura benar-benar menyetop total, bandara, pelabuhan, dan sebagainya," ujar Rizky.
Baca: Live: Kemunduran Ekonomi Negara Besar, Peluang RI Kejar Ketertinggalan
Konsumsi rumah tangga yang dialami Indonesia juga tidak jatuh mendalam. Sebab ruang gerak aktivitas masyarakat tidak seluruhnya dibatasi.
Kebijakan pemerintah meningkatkan konsumsi kelas bawah atau informal juga dinilai tepat. Hal ini mendorong daya beli masyarakat.
"Kita lihat itu saat PSBB (ada) sumbangan ojol (ojek online), kemudian gimana caranya warteg ini tetap ada yang beli. Ini jaringan atau pengamanan sosial khas Indonesia," ucap Rizky.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Situasi ini pertama kalinya sejak 1998 atau ketika Indonesia mengalami krisis finansial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News