Ilustrasi. Foto AFP.
Ilustrasi. Foto AFP.

Indonesia Dinilai Punya Modal Kuat Tangkal Ancaman Resesi AS

Eko Nordiansyah • 05 Juli 2022 13:48
Jakarta: Indonesia dinilai memiliki modal yang cukup kuat untuk mempertahankan pemulihan ekonomi di tengah berbagai risiko global. Saat ini banyak negara terancam mengalami stagflasi, yaitu terjadinya inflasi yang tinggi saat perekonomian masih rendah atau bahkan resesi.
 
Ekonom Core Indonesia Piter Abdullah mengatakan, Indonesia punya beberapa faktor yang bisa menjadi modal menangkal krisis sekaligus menjaga momentum pemulihan ekonomi. Setidaknya ada tiga modal utama yang dimiliki Indonesia untuk menangkal ancaman global.
 
"Modal pertama adalah struktur ekonomi yang bersandar pada konsumsi domestik. Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hampir mencapai 60 persen," kata dia kepada Medcom.id, Selasa, 5 Juli 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Konsumsi diproyeksikan akan terus tumbuh mendekati tingkat pertumbuhan normal yaitu sekitar lima persen. Artinya, jika pertumbuhan konsumsi kembali normal, dengan dorongan investasi dan ekspor maka pertumbuhan ekonomi berada di kisaran lima persen.
 
"Modal kedua, kenaikan harga berbagai komoditas global, mulai dari batu bara, nikel, hingga CPO, mendorong peningkatan ekspor indonesia. Sejak akhir 2020, ekspor Indonesia terus tumbuh tinggi dan menyebabkan surplus neraca perdagangan yang besar," ungkapnya.
 
Modal ketiga, ia menambahkan, stabilitas sistem keuangan Indonesia relatif sangat terjaga. Meskipun diterpa badai pandemi selama dua tahun terakhir, sistem keuangan Indonesia cukup stabil dan bisa diandalkan mendukung proses pemulihan ekonomi nasional.
 
"Meskipun perekonomian global terancam mengalami stagflasi, Indonesia berpeluang untuk tetap meneruskan proses pemulihan ekonomi. Dengan syarat pandemi covid-19 terus mereda. Tidak terjadi gelombang keempat yang memaksa pemerintah mengetatkan kembali PPKM," ujar dia.
 
Baca juga: Pemulihan Ekonomi RI Masih Kuat Meski Dibayangi Risiko Resesi AS

 
Selain pandemi, ada faktor risiko lainnya yang juga harus diwaspadai oleh pemerintah, yaitu kenaikan inflasi yang sejauh ini masih terjaga. Risiko lainnya adalah modal asing keluar dan pelemahan rupiah di tengah pengetatan kebijakan moneter bank sentral negara maju.
 
"Rupiah saat ini sudah melemah mendekati level psikologis Rp15 ribu per USD. Jangan sampai rupiah melemah terlalu jauh dan memunculkan kepanikan pasar. Ketika itu terjadi stabilitas pasar keuangan akan sulit dilakukan dan membutuhkan biaya besar," pungkasnya.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif