Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: MTVN/Wahyu A. Putro)
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: MTVN/Wahyu A. Putro)

Ini Alasan Pemerintah Perlebar Kepemilikan Asing di Investasi

Ekonomi paket kebijakan ekonomi daftar negatif investasi
Suci Sedya Utami • 11 Februari 2016 18:10
medcom.id, Jakarta: Paket kebijakan ekonomi jilid X telah dikeluarkan. Dalam paket kali ini, pemerintah memperluas porsi kepemilikan asing dalam beberapa bidang usaha.
 
Kebijakan itu tertuang dalam revisi peraturan presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2014 yang mengatur tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal atau yang lebih dikenal sebagai Daftar Negatif Investasi (DNI).
 
Menko Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan alasan pemerintah memperluas kesempatan asing untuk masuk karena ingin mengembangkan investasi nasional yang dinilai tidak banyak disentuh.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seperti misalnya pada industri bahan baku obat yang dibuka 100 persen untuk asing. Pemerintah menilai selama ini, bahan baku obat didominasi dari impor sekitar 90 persen.
 
"Obat kita sudah mulai turun harganya, tapi karena di hulunya masih impor makanya kita kasih 100 persen. Supaya nanti harga produk obatnya turun," terang Darmin di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/2/2016).
 
Selain itu, ada juga industri cold storage atau mesin penyimpan dan pendingin, yang sampai sekarang tidak berkembang. Intinya, kata Darmin, supaya bisnis bisa masuk dengan mudah. Begitu juga dengan industri perikanan.
 
"Dalam DNI Penangkapan Ikan enggak boleh asing, kita ingin diolah di dalam, diekspor dan digunakan dalam negeri, termasuk cold storage. Kalau itu enggak investasi enggak ngejar dia, nanti produknya ke mana," ujar Darmin.
 
Dia menjanjikan revisi aturannya akan keluar bulan ini. Namun, dirinya belum bisa menghitung berapa potensi investasi yang akan datang dari perluasan porsi investasi ini.
 
"Belum, namanya juga baru dibuka, sudah nanya investasi berapa. Masih perlu waktu (menghitung)," jelas dia.
 
Sekadar informasi, perubahan komposisi saham asing yang menjadi 100 persen antara lain:
1. Industri crumb rubber dari porsi semula 49 persen.
2. Pengusahaan jalan tol dari porsi sebelumnya 95 persen.
3. Pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berguna dari porsi semula 95 persen.
4. Direct selling, porsi semula 95 persen.
5. Cold storage, 33 persen.
6. Pialang berjangka, 95 persen.
7. Restoran, 51 persen.
8. Bar, 49 persen.
9. Kafe, 49 persen.
10. Gelanggang olahraga (renang, sepak bola, tenis, kebugaran, sport centre, kegiatan olahraga lain), 49 persen.
11. Studio pengambilan gambar film, 49 persen.
12. Laboratorium pengolahan film, 49 persen.
13. Sarana pengisian suara film, 49 persen.
14. Sarana percetakan dan atau penggandaan film, 49 persen.
15. Pembentukan lembaga pengujian perangkat telekomunikasi, 95 persen.
16. Industri bahan baku obat, 85 persen.
17. Jasa konsultasi bisnis dan manajemen dan atau jasa manajemen RS, 67 persen.
18. Jasa pelayanan penunjang kesehatan (penyewaan peralatan medik), 49 persen.
19. Jasa pelayanan penunjang kesehatan; laboratorium klinik, 67 persen.
20. Jasa pelayanan penunjang kesehatan; klinik medical check up, 67 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif