Indonesia Harus Maksimalkan Bonus Demografi
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro (Foto: Bappenas)
Jakarta: Indonesia diperkirakan menjadi negara maju di 2045 lantaran memiliki bonus demografi atau usia muda produktif. Bonus demografi tersebut harus dimanfaatkan semaksimal mungkin agar berkontribusi terhadap aktivitas perekonomian, dan jangan sampai dibiarkan begitu saja.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemanfaatan bonus demografi menjadi salah satu jalan mencapai tujuan di 2045. Bambang mengatakan puncak bonus demografi yakni 2030 atau bisa lebih cepat di 2025. Apabila bonus demografi telah habis maka Indonesia bersip untuk menua.

Mantan Menteri Keuangan ini menilai bila bonus demografi tidak dimanfaatkan jangan harap tujuan untuk menjadi negara kaya dengan pendapatan per kapita di atas USD20 ribu di 2045 bisa tercapai. Untuk itu, perlu sedari awal untuk memanfaatkan bonus tersebut agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih maksimal.

"Maka jadi lah tua sebelum pensiun. Jadi lah kaya sebelum demografi habis. Sebab sekali tidak dimanfaatkan bonus demografinya maka mohon maaf 2045 tidak bisa menjadi part of development country," kata Bambang, dalam legacy talk yang diinisiasi Ganesha ITB, di Energy Building, Jakarta, Kamis, 22 November 2018.

Bambang, yang pernah menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu ini menambahkan untuk menjadi negara maju di 2045 sebenarnya Indonesia hanya perlu tumbuh 5,1 persen secara konstan hingga 2040. Pertumbuhan tersebut dibutuhkan bagi Indonesia apabila ingin naik kelas.

Saat ini, masih kata Bambang, Indonesia masih menduduki level low middle income. Pada 2020, ekonomi Indonesia diperkirakan naik menjadi upper middle income dan di 2040 akan naik menjadi high middle income.

"Nah kalau itu terjadi maka 2045 bisa menjadi negara ekonomi terbesar. Indonesia bisa berada di peringkat antara 4-7. Paling banyak empat paling buruk tujuh. Kalau di posisi empat kita cuma kalah dari tiga negara saja yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India," pungkas dia.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id