Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

BI Dinilai Perlu Waktu Turunkan Suku Bunga

Ekonomi bank indonesia suku bunga repo
Desi Angriani • 25 April 2019 11:38
Jakarta: Bank Indonesia (BI) dinilai memerlukan waktu tambahan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) dari level enam persen. Waktu tersebut diperlukan setidaknya menunggu cadangan devisa terkumpul hingga USD130 miliar.
 
Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu menuturkan akumulasi cadangan devisa yang dalam dua sampai tiga bulan ke depan akan menjadi barometer untuk sinyal pelonggaran ini. Karenanya, bank sentral masih perlu mempertahankan bunga acuan di level tersebut dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) nanti.
 
"BI akan memerlukan waktu tambahan sebelum mulai menurunkan tingkat suku bunga kebijakannya; setidaknya sampai cadangan devisa telah cukup terkumpul," ujar Febrio kepada Medcom.id di Jakarta, Kamis 25 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Febrio menambahkan rupiah yang menguat, didukung oleh aliran modal masuk, dan inflasi yang cenderung semakin rendah cukup menjadi alasan bagi Bank Indonesia agar mulai menyiapkan siklus pelonggaran moneter.
 
Tercatat nilai tukar rupiah relatif stabil di kisaran Rp14.000 sejak beberapa waktu terakhir. Hal tersebut didukung oleh faktor eksternal dan internal berupa sentimen positif investor terhadap pertumbuhan manufaktur Tiongkok yang di atas ekspektasi disertai membaiknya sentimen tentang perang dagang AS-Tiongkok.
 
Seiring dengan itu, pemilihan umum yang berjalan aman dan kondusif juga mendorong rupiah ke tingkat yang lebih kuat. Termasuk hasil hitung cepat pemilihan presiden oleh sejumlah lembaga survei turut mendorong ekspektasi investor.
 
"Perbaikan kurs rupiah merupakan hasil dari meningkatnya kepercayaan investor berkontribusi terhadap aliran masuk portofolio yang berkelanjutan di negara-negara berkembang," ungkap dia.
 
Di samping itu, tingkat inflasi juga sudah terlalu rendah, yaitu turun di bawah batas bawah koridor BI. Tercatat inflasi Maret sebesar 2,48 persen (yoy) dibanding bulan lalu yang sebesar 2,5 persen (yoy). Angka inflasi ini telah mencapai tingkat terendah dalam satu dekade terakhir seiring dengan turunnya harga pangan dan komoditas.
 
"Harga bahan makanan mentah mengalami deflasi didorong oleh lonjakan pasokan, namun harga dari sektor makanan, minuman, dan rokok mengalami peningkatan sehingga berkontribusi pada tercatatnya inflasi Maret," tambahnya.
 
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Indonesia dalam dua bulan terakhir secara signifikan juga telah memperbaiki kinerja transaksi berjalan di Triwulan I-2019. Data terbaru menunjukkan sinyal pemulihan dengan surplus perdagangan yang tidak terduga dalam dua bulan berturut-turut, masing-masing sebesar USD0,3 miliar dan USD0,5 miliar. Peningkatan ini telah membuat defisit perdagangan secara keseluruhan di Triwulan-I turun menjadi USD0,19 miliar dari defisit USD4,8 miliar di kuartal sebelumnya.
 
"Tantangan utama ke depan untuk ketidakpastian neraca perdagangan akan berasal dari kemungkinan jatuhnya harga komoditas akibat perlambatan ekonomi yang dapat memberikan kontribusi negatif pada kinerja neraca berjalan," pungkasnya.
 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif