Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.

BI: Ketegangan AS-Iran Tak Mengoyak Fundamental Ekonomi RI

Ekonomi bank indonesia as-iran ekonomi indonesia
Husen Miftahudin • 10 Januari 2020 17:12
Jakarta: Bank Indonesia (BI) optimistis ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak akan mengganggu fundamental ekonomi RI. Lagipula risiko geopolitik tersebut tidak berimbas signifikan terhadap kondisi ekonomi global.
 
Meskipun ada peningkatan risiko geopolitik global, Gubernur BI Perry Warjiyo tetap memasang kepercayaan diri yang tinggi terhadap laju perekonomian domestik. Ketegangan AS-Iran diyakini tak mempengaruhi kondisi makroekonomi, stabilitas eksternal, dan juga nilai tukar rupiah.
 
"Terbukti, rupiah bergerak menguat sesuai fundamental, mekanisme pasar, dan juga karena kredibilitas kebijakan yang ditempuh pemerintah dan BI. Terbukti dari apa? Premi risiko dalam bentuk credit default swap (CDS) yang itu juga terus menurun," ujar Perry di kompleks perkantoran Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun Perry menyebutkan risiko geopolitik atas ketegangan AS-Iran berpengaruh dalam jangka pendek, ini sama halnya dengan keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa alias Brexit. "Tapi secara fundamentalnya kami pandang tidak berpengaruh secara signifikan," tegas Perry.
 
Meskipun begitu, Bank Indonesia tak lantas berdiam diri. Bank sentral akan terus memantau berbagai perkembangan-perkembangan global sembari memasang kuda-kuda demi menjaga dampak meluasnya risiko geopolitik tersebut.
 
Beruntung, sebut Perry, hubungan dagang antara AS dan Tiongkok mulai mengalami perkembangan positif. Bahkan dalam waktu dekat akan ada penandatanganan kesepakatan perdagangan dari dua negara adikuasa itu.
 
"Itu juga memberikan persepsi yang positif bahwa (pertumbuhan) ekonomi dunia kalau perkiraan kami di tahun ini meningkat dari tahun lalu, dari 2,9 persen ke tiga atau atau 3,1 persen," ucapnya.
 
Selain itu, perbaikan hubungan AS-Tiongkok bakal memberi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan mendukung pertumbuhan ekonomi. "Juga memberikan persepsi risiko yang positif bagi aliran modal asing masuk ke dalam negeri," pungkas Perry.
 
Kondisi ketegangan AS-Iran mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump mundur dari perang dengan Iran. Dia mengklaim Iran 'mundur' setelah menembakkan rudal pada pasukan AS yang berbasis di Irak, tanpa menimbulkan korban.
 
Selain itu, Parlemen AS melalui Kongres juga mengambil opsi untuk mengekang wewenang Presiden Trump dalam mengambil tindakan militer terhadap Iran. Resolusi itu diperkenalkan Partai Demokrat setelah perintah Trump untuk membunuh komandan pasukan Quds Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani.
 
Pemungutan suara dilakukan oleh pihak Kongres AS. Sebanyak 224 orang mendukung resolusi itu dan 194 lainnya menolak. Hasil itu membuat Kongres AS menuntut Presiden Trump untuk tidak terlibat dalam aksi militer terhadap Iran, kecuali diizinkan oleh Kongres.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif