Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: dok MI/Irfan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: dok MI/Irfan.

Sri Mulyani: Target Penerimaan Perpajakan RAPBN 2023 Tertinggi Sepanjang Sejarah

M Ilham Ramadhan • 16 Agustus 2022 21:34
Jakarta: Target penerimaan perpajakan negara yang dituangkan dalam RAPBN 2023 disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Pemerintah diketahui mematok pemasukan dari sektor perpajakan hingga Rp2.016,9 triliun di tahun depan.
 
"Ini pertama kali di dalam histori Indonesia, penerimaan perpajakan menembus angka Rp2.000 triliun," ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers Nota Keuangan secara daring, Selasa, 16 Agustus 2022.
 
Kendati target itu merupakan rekor secara nominal, namun bila dilihat secara persentase, target penerimaan perpajakan tahun depan hanya naik 4,8 persen dari proyeksi penerimaan perpajakan tahun ini yang sebesar Rp1.924,9 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penaikan target itu, kata Sri Mulyani, merupakan keputusan paling moderat yang bisa diambil pemerintah. Sebab, penerimaan perpajakan tahun ini terlampau tinggi akibat faktor eksternal seperti kenaikan harga-harga komoditas dan faktor internal seperti Program Pengungkapan Sukarela (PPS).
 
Pemerintah menyadari, dua penggedor penerimaan perpajakan itu tak lagi bisa dirasakan di tahun depan. Karenanya, pertumbuhan penerimaan perpajakan dalam RAPBN 2023 dipasang serealistis mungkin.
 
Efek kenaikan harga komoditas, misalnya, telah memberikan tambahan penerimaan pajak sebesar Rp117,8 triliun di 2021. Kontribusinya bahkan diperkirakan naik menjadi Rp279,8 triliun di tahun ini. Sedangkan pada tahun depan, penerimaan pajak dari komoditas diperkirakan hanya Rp211 triliun.
 
Baca juga: Berkah Komoditas Selesai, Bidikan Penerimaan Perpajakan Tahun Depan Cuma Tumbuh 4,8%

 
Sementara dari sisi kepabeanan dan cukai, komoditas juga dinilai berperan penting dan terlihat dari porsi bea keluar. Pada 2021, misalnya, kontribusi komoditas dari pungutan bea keluar terhadap penerimaan bea dan cukai mencapai Rp34,6 triliun. Peranannya bertambah besar tahun ini dengan prediksi bakal mencapai Rp48,9 triliun.
 
Sedangkan di 2023, pemerintah memperkirakan kontribusi komoditas melalui pungutan bea keluar terhadap total penerimaan bea dan cukai hanya Rp9 triliun. "Ini turun hampir 4,7 persen pada total penerimaan bea dan cukai, makanya level dari bea dan cukai lebih rendah dibandingkan tahun ini," kata Sri Mulyani.
 
Namun demikian, dia tegas menyatakan, Indonesia ogah didikte oleh dampak ketidakpastian global tersebut. Pemerintah, imbuh Sri Mulyani, bakal berupaya mengelola APBN sebaik mungkin agar target-target yang telah ditetapkan dapat terwujud.
 
"Gejolak harga mempengaruhi postur APBN kita. Namun kita tidak boleh membiarkan gejolak ini mendikte dan mempengaruhi banyak program pemerintah. Maka kita tetap menjaga belanja pemerintah, utamanya yang prioritas, walaupun penerimaan mengalami berbagai dinamika," tutur dia.

 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif