Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Herald van der Linde mengatakan keputusan mengenai klasifikasi pasar sepenuhnya berada di tangan MSCI. Namun, berdasarkan komunikasi dengan sejumlah manajer investasi yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan, Indonesia dinilai belum menunjukkan karakteristik yang identik dengan pasar frontier.
“Kami tidak tahu apa yang akan dilakukan MSCI karena itu merupakan keputusan mereka. Namun, jika saya berbicara dengan manajer investasi yang menggunakan MSCI sebagai acuan, pandangan yang sangat dominan adalah Indonesia bukan frontier market,” kata Herald dikutip dari Metrotvnews.com.
Menurut Herald, posisi Indonesia terlihat berbeda jika dibandingkan dengan sejumlah negara yang berada dalam kategori frontier market, seperti Bangladesh dan Pakistan.
Perbedaan tersebut antara lain terlihat dari skala pasar saham, tingkat likuiditas, jumlah perusahaan tercatat, hingga kualitas emiten yang tersedia bagi investor.
“Jika Anda membandingkan Indonesia dengan Bangladesh dan Pakistan dari sisi pasar saham, ukuran, likuiditas, jumlah saham yang tercatat, dan kualitas perusahaan, kita berada dalam kondisi yang benar-benar berbeda,” ujarnya.
Free Float Jadi Perhatian
Meski menilai Indonesia tidak mengarah pada penurunan klasifikasi, Herald menyebut masih ada persoalan yang perlu diperjelas, terutama menyangkut free float saham.Free float merupakan porsi saham suatu perusahaan yang tersedia untuk diperdagangkan secara publik. Ketersediaan saham tersebut menjadi penting bagi investor yang mengikuti indeks tertentu, termasuk pengelola exchange-traded fund (ETF).
Herald menjelaskan keterbatasan saham yang benar-benar tersedia di pasar dapat menjadi persoalan bagi investor asing. Sebab, pengelola ETF perlu membeli saham tertentu untuk memperoleh eksposur yang sesuai dengan komposisi indeks acuannya.
Jika saham yang dibutuhkan ternyata sulit diperoleh karena jumlah saham yang beredar di pasar terbatas, investor dapat menghadapi kendala dalam menjalankan strategi investasinya.
“Jika saya harus mengatakan apa yang akan diputuskan MSCI, saya rasa mereka tidak akan melakukan penurunan klasifikasi. Namun, MSCI juga telah menegaskan mereka perlu mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai persoalan free float,” kata Herald.
Bursa dan MSCI Bahas Persoalan Free Float
Herald mengatakan persoalan free float tersebut masih menjadi bagian dari pembahasan antara pihak bursa dan MSCI.Menurut dia, proses pembahasan tersebut menjadi penting sebelum MSCI mengambil keputusan mengenai status pasar saham Indonesia dalam evaluasi November 2026.
“Dari yang saya pahami, bursa sedang bekerja sama dengan MSCI mengenai persoalan ini. Jadi, saya menduga masalah tersebut akan terselesaikan. Kita akan mengetahui pada November apa yang akan diputuskan MSCI mengenai hal ini,” ujar Herald.
Dengan demikian, perhatian investor saat ini tidak hanya tertuju pada kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia, tetapi juga pada bagaimana persoalan ketersediaan saham publik atau free float dapat diselesaikan sebelum evaluasi MSCI digelar.