Meski demikian, keputusan tersebut masih disertai sejumlah catatan yang membuat investor perlu tetap mencermati perkembangan reformasi pasar hingga beberapa bulan ke depan.
Analis Mirae Sekuritas Wilbert Arifin menilai keputusan MSCI setidaknya mampu meredakan kekhawatiran yang selama ini membayangi pasar terkait potensi keluarnya Indonesia dari indeks pasar berkembang.
| Baca juga: IHSG Dibuka Melemah Hari Ini, Investor Masih Menunggu Keputusan Penting MSCI |
"Keputusan ini menjaga lebih dari USD8 miliar dana asing yang terbenchmark pada indeks MSCI tetap berada di Indonesia. Namun, pasar juga perlu memahami bahwa MSCI masih akan melakukan peninjauan lanjutan hingga November 2026 apabila momentum reformasi dianggap melambat," ujar Wilbert dalam risetnya.
Menurut dia, masih terdapat risiko lanjutan atau tail risk yang perlu diperhatikan investor. Jika perkembangan reformasi pasar tidak sesuai harapan, MSCI berpotensi melanjutkan evaluasi yang bahkan dapat mengarah pada konsultasi terkait status Indonesia di masa depan.
Wilbert menilai aksi jual yang terjadi di pasar saham Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar kekhawatiran tersebut sebenarnya telah tercermin dalam harga saham. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), arus keluar dana asing tercatat melebihi Rp70 triliun atau sekitar USD4 miliar, di luar faktor rebalancing QIR. Selain itu, bobot Indonesia dalam indeks MSCI juga terus menyusut hingga berada di bawah 0,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 1,2 persen satu dekade lalu.
Narasi "Sell Indonesia" Dinilai Tidak Terbukti
Wilbert juga menyoroti maraknya narasi "Sell Indonesia" yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, data justru menunjukkan investor asing aktif masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham domestik."Di tengah kekhawatiran mengenai aspek investability Indonesia, investor asing aktif justru meningkatkan kepemilikannya sekitar 1,6 percentage point setelah tekanan pasar pada Januari dan Februari lalu," jelasnya.
Ia menambahkan pola tersebut menunjukkan adanya minat beli ketika valuasi saham mengalami penurunan. Tren tersebut bahkan telah berlangsung dalam jangka panjang dan bukan fenomena sesaat.
Analisis terhadap struktur kepemilikan empat bank terbesar di Indonesia juga menunjukkan perubahan menarik. Porsi kepemilikan investor aktif meningkat menjadi 14,3 persen pada Mei 2026, dibandingkan 9,9 persen pada 2016. Sebaliknya, kepemilikan investor pasif turun dari 22,3 persen menjadi 13,8 persen.
Menurut Wilbert, kondisi ini mengindikasikan bahwa investor aktif masih melihat peluang investasi di Indonesia meskipun posisi mereka secara umum masih berada di bawah tingkat benchmark.
Valuasi Menarik, Tetapi Investor Masih Menunggu Kepastian
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia saat ini dinilai relatif murah dibandingkan negara berkembang lainnya. Wilbert mencatat rasio price to earnings (P/E) forward Indonesia berada di kisaran 9,5 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata negara emerging market yang mencapai 12,2 kali. Meski demikian, valuasi murah belum tentu cukup untuk menarik arus dana asing secara besar-besaran dalam waktu dekat."Selama risiko reklasifikasi masih menjadi pertanyaan, investor asing cenderung bersikap selektif. Arus masuk kemungkinan terjadi secara bertahap, bukan secara menyeluruh," kata Wilbert.
Karena itu, Mirae Sekuritas masih mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka panjang. Namun, perusahaan memilih bersikap lebih sabar dalam menentukan posisi investasi sambil menunggu hasil evaluasi MSCI berikutnya.
Wilbert mengatakan strategi yang saat ini lebih relevan adalah melakukan akumulasi secara bertahap saat terjadi pelemahan pasar, sebagaimana yang dilakukan oleh investor aktif, sambil menunda posisi overweight penuh hingga ketidakpastian terkait status Indonesia di MSCI benar-benar berakhir.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda