Ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta memperkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini mampu mencapai 5,1 persen. Hal ini didorong oleh pengeluaran pemerintah (spending), pendapatan ekspor, dan berbagai proyek investasi yang lebih baik dibandung 2015.
"Dorongan dari spending cukup besar. Kemudian elemen lain dari ekspor dan investment. Kenapa? Biasanya pergerakannya dari harga komoditi, komoditi membaik, akan membaik dari tahun lalu," ujarnya di kawasan Nusa Dua, Bali, Minggu (31/7/2016).
Namun begitu, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy menyebut, berharap kepada pengeluaran pemerintah adalah hal yang sulit dicapai. Maka dari itu dirinya lebih berharap adanya dorongan di sektor investasi sehingga mampu mengerek pertumbuhan ekonomi nasional ke level lima persen.
"Kita sebenarnya ada risiko, mengharapkan goverment spending jadi kunci itu agak sulit. Pada 2015, goverment capital spending 2015 year on year 53 persen. Mungkin enggak? Kalau ada risiko fiskal adjusment di pajak bagaimana? Second half sulit. Investment harapannya," jelas Leo.
Sedangkan Kepala Riset PT NH Korindo Securities, Reza Priyambada mengaku, pertumbuhan ekonomi tanun ini kemungkinan hanya sebesar 4,8 hingga 4,9 persen. Namun demikian, perkiraan itu tidak memperhitungkan upaya pemerintah yang saat ini sedang ditempuh.
"Artinya, ekonominya jalan apa adanya. Tapi kita lihat upaya pemerintah saat ini yang sedang gencar pulihkan ekonomi kita diberbagai sektor. Upaya sudah dilakukan, terutama genjot investasi. Optimistis 5,05 sampai 5,15 persen itu belum impact dari tax amnesty yang bisa buat kondisi makroekonomi yang lebih baik," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News