Ruang penurunan itu, diakui Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, masih mungkin dilakukan, karena tekanan domestik dari inflasi sedang meningkat. Ditambah, adanya ketidakpastian dari kebijakan Presiden terpilih AS Donald Trump yang membayangi pasar keuangan.
Baca: Penurunan BI 7 Day Repo Rate Dinilai Gairahkan Pasar
"Jika dilihat dari suku bunga acuan, maka ada sedikit ruang, tapi harus kalibarasi dengan tekanan dari kelompok harga barang yang diatur pemerintah (adminsitered prices)," kata Perry, ditemui di kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (6/1/2017).
Walaupun ada ruang pelonggaran suku bunga acuan, tapi menurut Perry, BI akan terus menggunakan instrumen suku bunga dalam menstabilkan ekonomi, dari pada mendorong pertumbuhan. "Untuk instrumen suku bunga, nilai tukar, pengawasan (surveillance) itu demi jaga stabilitas," tutur Perry.
Sekadar informasi, selama 2016, gerak inflasi tercatat di posisi 3,02 persen. Angka itu merupakan posisi yang bagus sejak 2010. Faktor utama yang membuat gerak inflasi cukup baik, merupakan ada koordinasi yang cukup positif antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
Sementara itu, dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tahun ini, sambung Perry, BI akan mengendorkan likuiditas perbankan dalam menyalurkan kredit dan melihat relaksasi makroprudensial yang saat ini sedang dijalankan. "Ekonomi domestik kondusif sejauh ini, otoritas moneter akan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah," tukas Perry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News