Suryamin mengungkapkan, secara kumulatif dari Januari hingga Oktober 2014, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan di ASEAN mencapai USD1 miliar, dimana ekspor ke negara ASEAN hanya USD24,18 miliar sedangkan impor sebanyak USD25,18 miliar.
"Ekspor ke ASEAN turun 38,7 persen jadi USD24,18 miliar. Hal ini karena kita kalah dari Thailand. Sedangkan dengan Malaysia, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja kita masih surplus," ujar Suryamin di gedung BPS, Jalan Dr Sutomo Nomor 6-8, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2014).
Dia menjelaskan bahwa Indonesia masih banyak mengimpor dari negara Thailand. Hal ini terbukti dari impor negara Thailand selama Januari-Oktober 2014 sebanyak USD8,21 miliar sedangkan ekspor Indonesia ke Thailand hanya sebesar USD4,25 miliar.
Namun, lanjut dia, neraca perdagangan Indonesia tertolong karena perdagangan ke negara-negara Uni Eropa surplus. Pada bulan Oktober neraca perdagangan Indonesia ke Uni Eropa surplus sebanyak USD387,7 juta, begitu pula neraca perdagangan kumulatif selama Januari-Oktober 2014 yang surplus sebesar USD3,46 miliar.
"Hal ini membuktikan bahwa (neraca perdagangan) ke Uni Eropa membaik. Ini berdampak positif dengan ekspor kita. Tapi secara kumulatif kita masih defisit dengan Perancis dan Jerman," pungkas Suryamin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News