Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan kenaikan defisit anggaran ini disebabkan oleh menurunnya proyeksi ekonomi tahun ini. Dengan proyeksi PDB yang lebih rendah, maka defisit anggarannya pun meningkat.
"Karena pembagi rendah, maka angka defisit outlook jadi 5,8 persen. Itu kenapa angkanya bergerak ke atas," katanya dalam media briefing, Rabu, 18 Agustus 2021.
Pada tahun ini, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 3,7 sampai dengan 4,5 persen saja. Merebaknya covid-19 varian delta menjadi salah satu penyebab penurunan target pertumbuhan ekonomi dari lima persen.
Meskipun secara persentase defisitnya meningkat, namun ia menyebut, secara nominal angkanya lebih rendah. Pasalya dalam APBN 2021, defisit anggaran diperkirakan mencapai Rp1.006,4 triliun. Namun pemerintah memproyeksi angkanya lebih rendah.
"Di 2021 ini, kita lihat nominal defisitnya sebenarnya turun dibandingkan APBN 2021 yang nominalnya Rp1.006,4 triliun. Sedangkan outlook untuk tahun ini turun ke Rp939,6 triliun, sehingga secara nominalnya turun," ungkapnya.
Dengan penurunan itu, Febrio menambahkan risiko dari defisit anggaran tahun ini juga akan lebih rendah. Sebab kebutuhan pembiayaan anggaran yang lebih rendah akan membuat pemerintah tidak perlu banyak menarik utang, sehingga berdampak positif bagi perekonomian.
"Risiko lebih rendah karena nominal kebutuhan pembiayaan lebih rendah. Ini kita lihat angka-angka, pasar dan lembaga rating lihat angka tersebut. Ini sesuatu yang lumrah dan ini kita lihat sesuatu yang positif, karena risiko fiskalnya rendah," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News