BI Tegaskan Kenaikan Suku Bunga Bukan Bentuk Kepanikan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menegaskan kenaikan suku bunga acuan bukan bentuk kepanikan karena pelemahan rupiah. Pasalnya rupiah sempat melemah hingga level Rp14.300-an per dolar Amerika Serikat (USD), bahkan sempat menyentuh Rp14.400-an per USD.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan yang ditempuh oleh BI dilakukan berdasarkan kerangka kerja baku oleh bank sentral sejak 2003 dan 2005 lalu. Kerangka kebijakan itu yang akan menjadi pertimbangan BI dalam setiap Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilakukan tiap bulan.

"Setiap RDG bulanan kita itu akan melihat kembali berbagai indikator baru, apalagi dalam beberapa waktu terakhir perubahan begitu cepat," kata Perry di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 29 Juni 2018.

Dirinya menambahkan kondisi perekonomian global berubah dengan cepat seiring kenaikan suku bunga The Fed, ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate hingga empat kali tahun ini, kebijakan AS, ketegangan perang dagang AS dan Tiongkok, hingga kenaikan harga minyak dunia.

"Semuanya itu didasarkan kerangka kebijakan yang kita bangun sejak lama termasuk riset yang mendukung dan pembahasan continue dan maraton. Yakinkan keputusan 50 bps itu keputusan yang betul-betul didasarkan kaidah-kaidah tadi," jelas dia.

Sebelumnya BI menaikkan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen di RDG Juni. Kenaikan suku bunga ini dimaksudkan sebagai langkah lanjutan dari kebijakan yang telah diambil oleh bank sentral dalam dua bulan terakhir.

Kenaikan suku bunga acuan juga diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps. Dengan begitu, maka suku bunga Deposit Facility sebesar 4,5 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar enam persen.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id