Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penerbitan tahap awal sengaja dilakukan dalam skala terbatas meski potensi permintaan investor diperkirakan cukup besar.
"Karena ini merupakan pasar baru, kami akan menjajakinya terlebih dahulu. Walaupun permintaannya mungkin sangat besar, penerbitan tahap pertama kami batasi sebesar 1 miliar dolar AS. Jika diperlukan, beberapa bulan kemudian kami dapat melakukan penerbitan kembali dengan nilai yang lebih besar," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juli 2026 di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.
Pemerintah Gandeng Sejumlah Bank Besar China
Dalam proses penerbitannya, pemerintah menunjuk Bank of China (BOC) sebagai lead underwriter sekaligus lead bookrunner.Sementara itu, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), CITIC, China International Capital Corporation (CICC), dan DBS Bank China bertindak sebagai joint lead underwriters dan joint bookrunners.
| Baca juga: Kapan China Bisa Terbitkan Obligasi di Indonesia? |
Adapun Agricultural Bank of China (ABC), China Construction Bank (CCB), serta CEXIM dipercaya sebagai co-managers dalam penerbitan obligasi tersebut.
Purbaya juga mengungkapkan bahwa China Lianhe Rating Co., Ltd. telah memberikan peringkat AAA dengan outlook stabil (AAA/Stable) kepada Panda Bond Indonesia pada 1 Juli 2026. Rating tersebut menjadi modal penting untuk menarik minat investor di pasar keuangan China.
Apa Itu Panda Bond?
Panda Bond merupakan surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan asing di pasar domestik China dengan mata uang renminbi (yuan/RMB).Bagi Indonesia, instrumen ini menjadi langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan internasional. Selama ini, penerbitan surat utang luar negeri masih didominasi mata uang dolar AS maupun euro.
Dengan masuk ke pasar obligasi China, pemerintah berpeluang memperluas basis investor sekaligus memperoleh alternatif pendanaan dengan biaya yang kompetitif.
Selain itu, penggunaan mata uang yuan dalam pembiayaan dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah tersebut diharapkan turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak pasar global.
Disamping itu, penerbitan Panda Bond juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat struktur pembiayaan APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Jika penerbitan perdana mendapat respons positif dari investor, pemerintah membuka peluang untuk kembali menerbitkan Panda Bond dengan nilai yang lebih besar dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan pasar keuangan China yang memiliki likuiditas tinggi dan basis investor yang luas, Panda Bond diharapkan menjadi salah satu instrumen pembiayaan internasional yang dapat menopang kebutuhan fiskal Indonesia dalam jangka panjang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda