"Faktor utama penurunan defisit transaksi berjalan adalah neraca perdagangan yang terus mencatat surplus. Maka dari itu kuartal IV-2016, kami perkirakan defisit transaksi berjalan sebesar 1,9 persen terhadap PDB," ucap Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, ditemui di komplek Gedung BI, Jakarta, Jumat (13/1/2017).
Neraca transaksi berjalan menjadi indikator ekspor-impor untuk barang dan jasa dari Indonesia ke negara lain. Biasanya neraca transaksi berjalan terbagi dalam dua komponen, yaitu neraca perdagangan untuk barang dan juga neraca jasa.
Saat nilai neraca transaksi berjalan mengalami defisit, artinya negara itu masih banyak mengimpor banyak barang dan jasa, ketimbang melakukan ekspor. Tapi, ketika defisitnya kecil, maka ada perbaikan dalam realisasi ekspor-impor barang dan jasa.
Perbaikan defisit neraca transaksi berjalan juga mempengaruhi kondisi neraca pembayaran Indonesia (NPI). NPI merupakan bagian dari neraca transaksi berjalan, neraca modal dan cadangan devisa.
"Posisi cadangan devisa akhir Desember 2016 naik menjadi USD116 miliar. Bisa dibilang NPI akan positif (surplus), ditambah modal asing yang masuk juga banyak," ungkap Perry.
Sekadar diketahui, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2016 tercatat sebesar USD 116,4 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir November 2016 yang sebesar USD111,5 miliar.
Peningkatan tersebut dipengaruhi penerimaan cadangan devisa, antara lain berasal dari penerbitan global bonds dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan devisa migas, yang melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.
Cadangan devisa per akhir Desember 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,8 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Capaian Desember lebih baik ketimbang dengan capaian devisa per akhir November sebesar USD111,5 miliar yang lebih rendah dibandingkan posisi per akhir Oktober 2016 yang sebesar USD115,0 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News